Mimpiku Berada di Tanah Jawa

Oleh Dwi Okta R

“Kamu tidak boleh ke Jawa.”

Kalimat itu masih jelas terngiang di kepalaku sejak aku duduk di bangku MTs. Sejak saat itu, setiap kali teman-temanku sibuk merencanakan masa depan mereka, aku justru sibuk dengan hal yang sama berusaha meyakinkan orang tuaku agar mengizinkanku pergi mengejar mimpi yang selalu kusimpan dalam doa.

Namaku Selatan Bumingkara, tapi orang-orang memanggilku Ara. Aku 17 tahun, seorang santri angkatan 2024 yang menimba ilmu di Banda Aceh. Di tengah padatnya kehidupan pondok, ada satu mimpi yang tidak pernah benar-benar hilang sejak MTs yaitu melanjutkan pendidikan ke Jawa.

Saat ini pondokku sedang ramai dengan pendaftaran beasiswa berprestasi ke luar Sumatera. Aku dan teman-teman sibuk menyiapkan berkas, belajar bersama, dan saling menyemangati. Namun ada satu hal yang tidak kukatakan kepada ayah dan ibuku, beasiswa ini adalah jalan menuju luar Sumatera.

Aku takut mereka tidak mengizinkan.

“Ibu, Ayah, doakan Ara lulus ya,” kataku suatu malam.

“Iya nak, belajar dan ibadahnya jangan lupa ya,” jawab mereka lembut.

Sejak itu aku semakin sering berdoa dalam diam. Aku berharap Allah melembutkan hati orang tuaku, jika memang aku ditakdirkan untuk melangkah lebih jauh.

Malam pengumuman tahap pertama tiba.

Aku lolos.

Aku bersyukur, dan sejak itu aku semakin giat belajar. Tapi di balik itu, ada satu hal yang masih kusimpan rapat aku belum jujur kepada orang tuaku.

Hingga hari pengumuman tahap akhir datang. Aku sudah berusaha semampuku, bahkan belajar kisi-kisi dengan sungguh-sungguh. Aku yakin hasilnya akan baik.

Namun ternyata…

Aku tidak lolos.

Aku hanya diam.

Tidak ada tangisan berlebihan, tapi ada sesuatu yang berat di dadaku. Karena bagiku, ilmu tidak pernah terbatas pada satu tempat. Namun tetap saja, Jawa masih menjadi mimpi yang belum bisa kugapai.

“Bagaimana mungkin aku bisa ke Jawa tanpa alasan yang kuat…” batinku malam itu.

Aku mengambil wudu, lalu berdoa lebih lama dari biasanya. Dalam sujud, aku mencurahkan semuanya rasa kecewa, takut, dan pertanyaan yang bahkan tak mampu kujawab sendiri.

Keesokan harinya, satu hal terus menggangguku. Aku teringat bahwa aku belum jujur kepada ayah dan ibuku tentang beasiswa itu. Aku tidak ingin terus bersembunyi dalam keadaan seperti ini. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri, perlahan menata pikiran agar lebih tenang. Setelah itu aku mulai mencari jalan lain untuk melanjutkan pendidikan.

Waktu pun berjalan.

Kini aku sudah menjalani dua semester kuliah di Sumatera Barat, jurusan Ilmu Hadits. Banyak hal yang telah kulewati, banyak pelajaran yang kudapatkan. Tanpa banyak orang tahu, aku masih mengikuti informasi beasiswa ke Jawa itu. Beberapa orang mendukungku untuk mencoba lagi, meski ada juga yang meragukanku. Tapi aku belajar satu hal aku tidak boleh kalah oleh pikiranku sendiri, dan juga tidak boleh kalah oleh pikiran orang lain.

Karena dorongan itu, aku akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar kembali beasiswa ke Jawa. Aku tidak banyak bercerita kepada orang lain, bahkan beberapa teman tidak tahu bahwa aku mencoba lagi.

Hari itu aku pulang lebih malam setelah bermain bersama teman-teman. Aku bahkan tidak membawa ponsel.

“Sudah hampir malam, aku pulang dulu ya,” kataku.

Sesampainya di kamar, aku terkejut. Ponselku penuh dengan panggilan tak terjawab dan pesan ucapan selamat dari teman-temanku.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Aku lolos ke Jawa.

Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali, seolah takut salah lihat. Jantungku berdegup cepat. Aku tidak langsung percaya. Dengan tangan gemetar, aku bangkit dan berlari menuju ayah dan ibuku.

“Ayah… Ibu… Ara lolos ke Jawa!” suaraku bergetar.

Aku memeluk mereka erat. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Di saat itu, aku akhirnya benar-benar mengerti mimpi tidak selalu datang ketika kita ingin, tetapi ketika kita sudah cukup siap untuk menerimanya. Kadang Allah tidak menolak doa kita, hanya saja Ia sedang menundanya untuk waktu yang lebih baik agar kita tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih kuat sebelum sampai ke tujuan itu.

Loading