karya M. Arif Nanda Saputra
Aku pertama kali mati pada usia tujuh belas tahun.
Dan orang yang membunuhku adalah gadis yang
kucintai.
Aku tidak tahu itu saat pertama kali melihatnya. Waktu
itu ia hanya seorang gadis di halte bus dengan mata yang
terlihat seperti menyimpan terlalu banyak hujan.
Namanya Sena.
Dan sejak hari itu, hidupku berhenti berjalan lurus.
Aku bertemu Sena di sore yang biasa saja. Hujan baru
berhenti. Kota masih bau tanah basah. Ia duduk di
sampingku tanpa permisi, memegang amplop cokelat.
“Ini milikmu,” katanya.
Aku mengira ia salah orang.
Tapi namaku tertulis jelas di depan amplop itu.
Tanganku dingin saat membukanya.
Undangan pemakaman.
Namaku.
Tanggal tiga hari lagi.
Aku menoleh. Bangku di sampingku kosong.
Sena menghilang.
Aku membaca undangan itu sampai hurufnya terasa
bergerak. Jantungku berdetak terlalu keras untuk
sesuatu yang mungkin hanya lelucon.
Tapi tubuhku tidak percaya ini lelucon.
Tubuh selalu lebih jujur daripada pikiran.
Malam itu aku tidak pulang. Aku duduk di halte sampai
lampu jalan mati satu per satu. Setiap bus yang lewat
terdengar seperti hitungan mundur.
Aku merasa sedang menunggu diriku sendiri mati.
Keesokan harinya aku kembali.
Dan Sena benar-benar ada di sana.
Duduk di posisi yang sama. Baju yang sama. Rambut
basah yang sama.
“Aku menunggumu,” katanya pelan.
“Kemarin kamu menghilang,” kataku.
Ia tersenyum pahit.
“Kemarin sudah selesai. Ini hari pertama lagi.”
Dunia terasa miring.
“Apa maksudmu?”
“Kamu sudah mati,” katanya.
“Dan setiap kali kamu mati, waktu kembali ke halte ini.”
Aku tertawa pendek.
“Aku berharap itu lelucon,” katanya.
“Tapi aku sudah melihatmu mati tiga puluh dua kali.”
Tangannya gemetar saat menyentuh lenganku.
“Aku lelah menguburmu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari ancaman
kematian.
Aku ingin pergi.
Tapi ada bagian dalam diriku yang percaya pada gadis ini
tanpa alasan.
“Kalau aku mati… kenapa kamu masih di sini?”
“Karena aku menolak dunia di mana kamu tidak ada.”
Cinta sering datang bukan karena kebahagiaan, tapi
karena seseorang melihat luka kita dan memilih tinggal.
Sena tinggal.
Selalu tinggal.
Dan aku jatuh cinta pada seseorang yang sudah
melihatku mati berkali-kali.
Kami menghabiskan hari-hari berikutnya seperti pencuri
waktu.
Naik bus tanpa tujuan.
Makan di warung kecil yang hampir tutup.
Berbaring di atap gedung sambil menghitung lampu
kota.
Setiap tawa terasa seperti perpisahan yang menunda
diri.
Setiap sentuhan terasa seperti janji yang rapuh.
Sena selalu menangis setelah kami tertawa.
Seolah kebahagiaan adalah hutang yang harus segera
dibayar.
Malam sebelum tanggal kematianku, ia bertanya:
“Kalau ada cara menyelamatkanmu… tapi aku yang harus
mati… kamu mau?”
Aku tidak menjawab.
Karena cinta bukan soal siapa yang hidup.
Cinta adalah siapa yang tidak sanggup ditinggal.
Dan aku tidak sanggup kehilangan dia.
“Tidak,” kataku.
Ia tersenyum sedih.
“Aku sudah tahu kamu akan jawab begitu.”
Tanggal 14 datang dengan sunyi.
Kami berdiri di halte tempat semuanya dimulai.
Tangannya dingin di genggamanku.
“Aku capek,” katanya.
“Aku tahu.”
Bus datang dari kejauhan.
Dan di detik itu aku melihat keputusan di matanya.
Sena mendorongku mundur.
Ia melangkah ke jalan.
Aku berlari.
Terlambat.
Bus menghantam tubuhnya.
Suara itu seperti dunia patah.
Ia terbaring di aspal.
Darah di sekitarnya terlihat terlalu merah untuk menjadi
nyata.
Ia tersenyum padaku.
“Akhirnya… kamu hidup…”
Tangannya dingin saat kugenggam.
“Jangan pergi,” kataku.
“Tolong jangan…”
Air matanya jatuh.
“Aku sudah hidup ribuan kali untukmu… biarkan aku
istirahat…”
Dan ia berhenti bernapas.
Aku hidup.
Dan itu terasa seperti hukuman.
Pemakamannya sepi.
Aku berdiri sendirian di depan batu nisan dengan
namanya.
Sena.
Angin terasa seperti bisikan yang menolak berhenti.
Aku membuka amplop cokelat yang kutemukan di
sakuku.
Tulisan tangannya:
“Kalau kamu membaca ini, berarti aku berhasil.
Tapi kamu tidak akan bahagia.
Karena cinta kita tidak pernah selesai dengan adil.”
Di dalam amplop ada foto kami.
Foto yang tidak pernah kami ambil.
Kami berdiri lebih tua. Rambut beruban. Tertawa.
Di belakang foto tertulis:
” Masa depan yang kucuri untukmu.”
Saat itu aku mengerti.
Sena tidak menyelamatkanku.
Ia mencuri hidup dari garis waktu lain.
Dan menggantinya dengan kematiannya.
Untuk selamanya.
Aku tumbuh.
Aku bekerja.
Aku menikah.
Aku punya anak.
Aku tertawa.
Dan setiap kali tertawa… aku mendengar suara bus.
Kebahagiaan terasa seperti mencuri sesuatu yang bukan
milikku.
Aku hidup di atas kematian seseorang yang mencintaiku
terlalu banyak.
Di usia tujuh puluh tiga, aku kembali ke halte itu.
Bangku sudah diganti. Jalan diperlebar.
Tapi angin masih sama.
Aku duduk.
Dan seorang gadis datang.
Basah oleh hujan.
Mata penuh kenangan.
Ia menyodorkan amplop cokelat.
Tanganku gemetar.
Undangan pemakaman.
Namaku.
Tanggal besok.
Aku menatapnya.
“Sena?”
Ia tersenyum.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” katanya pelan.
“Kamu hanya meminjam hidup dariku.”
Air mataku jatuh.
“Aku siap,” bisikku.
Ia duduk di sampingku.
Kami menunggu bus bersama.
Tanpa takut.
Beberapa orang bilang mereka melihat seorang lelaki tua
tersenyum di halte malam itu sebelum sebuah bus
kehilangan kendali.
Di kursi penumpang, ada gadis yang menggenggam
tangannya.
Keduanya tertawa.
Seperti akhirnya pulang.
Dan di jalan yang kosong setelahnya, tertinggal satu
amplop cokelat tanpa nama.
Kosong.
Siklus selesai.
Cinta menang bukan karena hidup
tapi karena akhirnya berhenti.
![]()