Kemajuan Yang Sunyi
oleh : Faridatul Khasanah
Gadis itu tersenyum ketika angin tak segan meniup wajahnya. Berjalan di atas tanah negara yang maju dengan cara nyaris tidak bersuara. Gedung-gedung saling berlomba, namun tertata rapi seperti pikiran yang tak pernah lelah bekerja. Berlapis kaca dan berdekatan, seolah-olah mereka saling percaya bahwa merekalah yang membuat terlihat sebagai kemajuan negara.
Gadis itu terus berjalan di antara gedung-gedung sunyi. Ya, gedung tanpa asap penyebab polusi, tanpa mesin berisik, dan tanpa orang-orang berlumur keringat. Inilah negara saat ini, sunyi dan tak bersuara.
“Selamat datang,” terdengar suara robot ketika pintu terbuka otomatis saat gadis itu mendekat ke apartemennya. Seluruh sudut apartemen itu sudah mengenali pemiliknya. Gadis itu sudah merancang berbagai teknologi untuk ia manfaatkan di kehidupannya. Namanya Feisa. Gadis lulusan teknologi informasi dan sudah menginjak umur seperempat abad, yang punya kebiasaan ambisius dengan banyak teknologi yang diciptakannya.
Feisa segera menuju ke dapur saat rasa haus menghampirinya, mengambil lalu menaruh gelas di dispenser yang secara otomatis mengisinya sampai penuh. Duduk di atas kursi, lalu meneguknya. Air yang sudah masuk ke kerongkongan membuat dahi Feisa mengernyit.
“Sudah kesekian kali aku merasakan rasa aneh di air minum ini,” gumam Feisa.
Awalnya ia kira mesinnya rusak. Namun setelah mengeceknya, semuanya berjalan baik. Begitu pula dengan shower di kamar mandinya, airnya mengalir deras dan suhunya stabil, namun air yang keluar keruh.
Ia menampung air dengan gayung kecil yang tersedia di kamar mandinya. Mengamati, airnya tidak coklat, namun keruh keabuan, seperti awan yang hendak turun hujan. Diendusnya, tidak ada bau, netral, namun janggal.
Sore di hari itu hendak menghilang. Feisa segera menuju jendela dan mengklik tombol penutup otomatis gorden. Sembari menutup sempurna, Feisa memandang keluar dari ketinggian apartemen. Kota ini tampak rapi. Gedung-gedung tidak bercerobong, tidak ada asap hitam, dan tidak ada suara mesin yang dulu biasanya dituduh sebagai biang kerusakan.
Feisa segera membuka panel dinding dan memanggil data laporan pemakaian di apartemennya. Grafiknya muncul, semuanya hijau: energi stabil, penyaring air otomatis berjalan baik, semuanya sempurna.
“Seharusnya tidak begini,” gumamnya lagi.
Keesokan harinya.
Setelah menjadi dewasa, hal yang menjadi kesukaannya adalah kesendirian. Angin yang sama seperti sore kemarin datang lagi menyentuh wajahnya. Namun kini, Feisa duduk di kursi depan kafe tempat ia membeli kopi yang digenggamnya saat ini.
Feisa mengambil ponsel dan membukanya. Notifikasi muncul, terdapat satu pesan dari sahabat dekatnya, Noynoy.
“Fei, ke sini dong, cekin dispenser di rumahku, airnya nggak enak.” Begitulah kira-kira isi pesan dari Noynoy. Feisa hanya membalas pesannya bahwa ia juga merasakan hal yang sama.
Feisa kembali memikirkan hal janggal itu lagi. Otaknya menolak untuk mengabaikannya. Di kepalanya banyak hal muncul secara tersusun, bukan tuduhan, melainkan kemungkinan. Bukankah sesuatu yang rapi itu hal yang paling sulit dicurigai? Sesuatu yang tenang itu memungkinkan banyak kemunculan? Dan sesuatu yang paling sunyi itu sering kali bekerja paling keras?
Angin bertiup menenangkan. Gedung-gedung sunyi berjejeran. Manusia tidak perlu lagi bekerja keras untuk kehidupan. Namun kota ini terlalu sempurna, untuk air yang tak lagi jernih.
Feisa sudah sampai di apartemennya. Sore sudah mulai menghilang. Namun rasa aneh di dalam air belum juga larut. Setelah mengklik penutup gorden otomatis, Feisa kembali membuka panel dindingnya. Bukan lagi membuka grafik hijau yang menenangkan, namun kali ini ia membuka jalur air—jalur dari mana air masuk lalu keluar.
“Air masuk, kemudian dipakai… dan yap! Keluar,” gumam Feisa sambil mengamati jalur air di panel dindingnya.
Feisa tersenyum. Ia tahu apa penyebabnya. Sambil berjalan ke dekat sofa di ruang tamu apartemennya, jari Feisa mengklik tombol di jam tangan yang ia pakai. Sofa itu terbelah karena perintah majikannya, menampakkan tangga sempit yang membawa Feisa ke ruang tersembunyi.
Ruang itu jauh lebih sunyi dari apartemennya. Tidak banyak orang tahu kalau ruangan yang berlapis panel bening itu adalah tempat awal mula semuanya berubah.
Gadis itu berdiri di depan wadah besar yang saat ini terisi penuh oleh air. Warnanya keabuan, sama seperti air yang keluar dari kran. Menit demi menit berlalu. Ia melihat sesuatu di dalam wadah air itu perlahan menurun ke dalam dasar, menghasilkan lapisan tipis yang tertinggal diam.
“Semua ini bukan rusak, namun butuh waktu untuk tenang,” ucapnya.
Misi dimulai, dengan semua pengetahuan dan idenya. Feisa kembali berkarya, bergulat dengan alat kerja yang menjadi teman setianya. Ia membuat lapisan batu alam halus. Mirip seperti konsep sungai, ia gunakan untuk tempat endapan turun dan memperlambat aliran. Teknologi itu bekerja dengan belajar dari alam, bukan menguasainya.
Jam demi jam semakin berlalu. Kini teknologi yang Feisa buat sudah di depan mata. Wadah berlapis kaca tebal, yang disengaja agar pemilik bisa tahu ke mana endapan itu terpisah. Lapisan batu dan serat alami ikut berpartisipasi di dalamnya.
Setelah semuanya terpasang, Feisa kembali melihat wadah utama penampungan air. Butuh waktu lumayan lama, namun ia menciptakannya seperti alam yang bekerja: perlahan dan tidak tergesa-gesa.
Feisa tersenyum. Semuanya berhasil. Airnya kini jernih dan tidak ada lagi drama rasa aneh di dalamnya. Ia segera mengambil ponsel di sakunya, membuat panggilan. Kemudian suara laki-laki terdengar dari balik ponselnya.
“Apa kabar, Bos?” ucap laki-laki itu.
“Kabar baik. Buatkan pertemuan. Ada yang perlu kita kerjakan untuk masalah kota kita akhir-akhir ini,” jawab Feisa.
“Baik, Bos. Laksanakan.”
Feisa segera menutup teleponnya. Air di apartemennya kini kembali normal, namun belum dengan yang lain. Feisa bukan orang yang banyak dikenal. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang. Namun dengan kerja kerasnya di balik layar, ia banyak membuat perubahan.
Besok Feisa akan kembali memulai misinya. Bukan hanya untuk apartemen, namun untuk seluruh kota yang terkena dampak oleh kesunyian dunia ini.
Dunia ini memang sudah berubah. Tidak ada mesin berisik dan asap tebal yang menjadi biang kerusakan. Namun kesunyian teknologi justru paling bekerja keras mengambil dan mengubah sumber daya alam.
Teknologi butuh banyak air untuk pendinginan, sedangkan air yang dikeluarkan lebih panas dari suhu awalnya. Air itu kembali ke sungai, ke tempat di mana warga mengambil air untuk kehidupannya. Air itu tidak salah, namun perlu ruang jeda sebelum akhirnya ia keluar ke pemukiman.
Teknologi yang Feisa buat ia beri nama “Ruang Jeda”, tempat di mana air perlu untuk tenang sebelum akhirnya dikeluarkan.
Lalu bagaimana dengan endapan yang dihasilkan? Endapan bukan kegagalan, namun pertanggungjawaban. Seharusnya manusia tidak hanya menikmati kepraktisan yang dibuat teknologi, namun juga harus merawatnya.
Feisa pikir, hidup hanya sekadar air keruh. Selama ini kita mengira asap tebal dan mesin berisiklah yang paling merugikan. Namun siapa sangka? Yang kita sebut kemajuan justru yang paling banyak mencuri kenyamanan.
![]()