Sendal Ghasab

Selesai menyembah, menunduk dan memelas. Dalam batin berucap harapan. Merintih. Telapak tangan lebih tinggi dari kepala, tetap terbuka walau bergetar. Dari setiap sudut musholla terdengar desisan yakin.

amin, amin, amin”.

Banyak keinginan yang muncul saat hati lupa menconcong justru hilang kala jiwa terjatuh dalam khusu’. Namun kaulah lemah, tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon, menuntut, mengembangkan, merusak, dan bergerak tidak konsisten. Rupanya ia sedang dirundung keinginan, sampai-sampai do’a yang ia panjatkan penuh dengan duka dan harapan. Lirih terdengar dari telinga sendiri: aku memohon ampun kepada-Mu, tidak ada kekuatan selain kekuatan-Mu. Pujian-pujian itu jangan pernah kau luput sekalipun dalam do’a. Kaki melipat bertumpuk, tubuh membungkuk, kepala menunduk, roh terpuruk. Semua sama melakukan apa yang kini sedang menimpa, bertingkah serupa, namun bertingkat sesuai taqwa. Hanya kekasih pilihan yang mampu berlama-lama, lupa akan semua hal dunia, terpecah menjadi pemikir sacral, kotor, aneh, menyendiri. Tidak selamanya terbayang seperti itu, ada pula yang hidup seperti manusia pada umumnya. Menyukai harta, kebersihan, dan cinta akan kenyamanan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Harta? Mungkin sedikit rupiah yang diberikan secara malar setiap bulannya yang sedang ia damba-dambakan. Namun jika ia benar-benar menginginkannya, barapa banyak yang ia sebutkan dalam do’anya. Sedangkan untuk makan saja, dua ribu lima ratus sudah mendapatkan mie dan sop tahu. Tak jarang diberi bonus sambal untuk mereka yang menyukai.

Ia sendirian sekarang. Teman-temannya sudah selesai membaca wirid, sholat sunah, bahkan mereka yang mengobrol setelah jama’ah, sudah membubarkan diri. Tejo, santri yang sudah lama mukim dipesantren, masih khusu’ dengan harapan-harapannya. Harapan yang sama dengan teman-temannya, tetapi lebih memaksa, terlihat dari caranya berdo’a dengan tanggannya yang tinggi memohon. “Robbanaatinafiddunya khasanah, wa fiil akhirati khasanah….”, kalimat terakhir yang lumrah penutup do’a sudah keluar dari mulutnya, bertanda ia akan selesai.

Nampak Tejo sudah merasa cukup. Ia berdiri sejenak melihat ke sekeliling musholla lalu berjalan pergi. Tidak terlalu lama ia pasrah, berdiri dan berjalan mendekati pejuang lainnya. Tawa persahabatan seketika tumbuh saat sudah berkumpul. Lelucon-lelucon sederhana terdengar sangat menarik. Timpa-menimpa kekurangan tidak menjadi masalah serius. 

Perut terasa lapar. Tejo beranjak cepat menyusul bau harum yang sudah tercium. Jauh dari kata mewah makanan yang tersedia, tetap nikmat saat dibalut dengan syukur. Rela, menikmati, dan terkadang membantai dengan gerutu yang tidak ada akhirnya, namun tetap saja mereka memakan apa yang disediakan. Keberkahan berkumpul dalam satu wadah, melahap bersama sambil mulut kadang berucap. Sudah menjadi kebiasaan, kondisi bagaimanapun juga menjadi lawakan seketika. Ada yang berdesis pelan, membisik rancangan, diam-diam meraba lauk teman tanpa pengawasan. Risih rupanya mulut si Tejo sampai berkata,

“haduh, kiamat sudah dekat, tanda-tanda yang ada bisa kita lihat sekarang, tinggal siap-siap menyambutnya dengan keimanan.”

Nadanya biasa namun mengandung kejanggalan. Udin, satu lagi pejuang pintar. Alisnya mengernyit, tangannya berhenti memuluk, matanya menatap Tejo tidak biasa, mengundang tanya pada kepala yang semula hanya tenang.

“Kamu siapa?”, tanya Udin.

Bukan sebuah lelucon, namun hentakan keras kepada Tejo.

“Saya naming kawula.”, jawab Tejo.

“Ya sudah, pangkatmu hanya hamba, untuk apa kau mengatur terjadinya kiamat?”  

Tentu saja, kita sebagai hamba tidak sepatutnya berkata tentang hari kiamat, sekalipun tanda-tanda sudah bisa dilihat. Tuhan Maha Kuasa atas segala rancangan-Nya. Tidak akan terlambat sedetikpun, dan tidak bisa ditebak sampai kapanpun. Berangkali Tejo hanya sedang melamun karena sebelumnya ia terbang dalam ambang do’a. Sampai-sampai kalimat itu keluar dengan ringannya.

Belum selesai makan, terhenti pada pulukan terakhir karena mendengar teriakan dari depan.

“Jo…..Tejo! Timbali Mbah Yai!”

Seketika Tejo beranjak lari ke depan tanpa mencuci tangannya. Wajahnya risau, bibirnya bergetar. Ragu. Pikirannya bertanya-tanya ada apa sebenarnya samapai Mbah Yai memangilnya. Sedikit bayangan picik: mungkin aja, Allah telah mengabulkan do’anya lewat Mbah Yai. Mungkin saja, Mbah Yai tahu bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang sekarang. Tejo melihat ke arah barisan sandal yang berantakan. Ia mengambil sandal japit hijau untuk kaki kirinya, dan biru untuk kaki kanannya. Ia memakainya tanpa peduli itu milik siapa. Sudah tiga tahun ia hidup di pesantren tanpa memiliki sendal. Korban ghasaban sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Tak segan, sandal milik anak baru yang masih bersih dan bermerek juga ia sikat. Ada dua kemungkinan di sini: ia yang memang tidak memiliki uang, atau rasa kepemilikannya yang sudah melambung tinggi. Dalil lumrah “Semua milik Allah, semua hanya titipan Allah” menjadi pedomannya sampai saat ini. Mungkin jika suatu saat jempol Tejo hilang dimakan tikus, teman-temannya akan berteriak, “jempol itu juga milik Allah, titipan Allah”.

Mbah Yai, siapa yang tidak kenal beliau. Pengasuh pesantren dengan santri ribuan, dan masyarakat yang semuanya menanamkan cinta kepadanya, menumbuhkan bunga-bunga takdzim dan segan. Mbah Yai terlihat rapih dengan jubah dan sorban yang melingkar di kepalanya. 

Sedikit terbirit Langkah Tejo. Sampai keringat masih saja bercucur Ketika sudah sampai di hadapan Mbah Yai. Barangkali keringat itu bukan karena langkahnya yang cepat, tetapi karena sekarang ia sedang berhadapan dengan orang yang paling ia takuti.

“Antar saya ke maqam.”

Kalimat sederhana itu seketika dibalas dengan kepatuhan

Dari kejauhan maqam sudah terlihat ramai. Rupanya ada acara resmi yang dihadiri para Kyai di desa. Tejo berjalan hati-hati di belakang Mbah Yai, tanpa berani sejajar, apalagi mendahului. Semua orang menunduk ketika Mbah Yai melintas. Mereka yang duduk bahkan rela berdiri demi menghormati Mbah Yai.

“Nitip sendal, yo.”

Lagi-lagi kalimat sederhana yang keluar dari mulut Mbah Yai langsung dibalas dengan satu kata 

“Enggih.”

Tahlil dimulai. Kalimat demi kalimat pembawa acara berterbangan dari toa masjid. Para hadirin duduk tenang. Ibu-ibu yang hadir selalu saja begitu, masih saja mengobrol walau sudah diperingatkan sebelumnya. Obrolannya berhenti hanya di saat menjawab salam saja. Bahkan masih ada yang berkeliling mencari jajanan untuk anaknya. Pedagang yang ikut serta tidak berani berani berteriak lantang menawari. Tapi tetap saja ibu-ibu yang menawar harga membuat pedagang itu harus lantang berkata “Tidak”, karena tawaran harga yang diajukan mencapai setengah harga pasar. Tidak tanggung-tanggung memang ibu-ibu jika sudah menyukai barang, terlebih jika yang meminta anaknya. Jangankan menurunkan harga pasar, menurunkan harga diri penjualnya pun bisa saja akan ia lakukan.

Tidak terlalu lama tahlil berlangsung. Masyarakat yang sudah mendapatkan jatah berkat mulai beranjak dari tempatnya. Tejo harus Bersiap-siap. Sebentar lagi, Mbah Yai akan keluar dan pulang ke rumah. Ia merapihkan sandal Mbah Yai yang semula menghadap maqam ia putar siap pakai. Ia harus sabar menunggu, berdiri di sebelah sandal agar tidak tertukar, atau bahkan diambil orang.

Dari dalam, Mbah Yai sudah meninggalkan tempat duduknya. Jama’ah yang sudah lama menunggu berbaris bergantian menunggu kesempatan mencium tangan Mbah Yai. Semakin banyak jama’ah yang berdesakan menunggu giliran. Tejo tersengol dari tempatnya. Ia berusaha kembali ke tempatnya semula, namun jama’ah dengan cepat mengisi jarak demi jarak yang kosong. Sedikit saja Tejo mundur, di depannya sudah ada orang lain yang mengisi. Ia hanya perlu berdo’a agar sandal Mbah Yai tidak hilang. 

Seiring waktu berjalan, jama’ah sudah mulai mengikis. Tejo sudah bisa kembali dan mengecek apakah sandal Mbah Yai masih ada? Ia memasang mata tajam-tajam dari kejauhan. Namun Tejo tidak melihat sandal Mbah Yai di tempat semula. Ia berusaha mencari kemana sandal itu berpindah. Sekali lagi kesialan itu datang, Mbah Yai sudah berdiri memanggil Tejo sebelum sandalnya ketemu. Tejo hanya menunduk sambil sesekali menelan ludah. 

“Sendal saya mana? Ayo pulang.”

Belum ada jawaban di kepala Tejo. Ia tersenyum kaku menatap tanah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha menjawab dengan terbata-bata,

“Anu, Mbah, eh……sandalnya, anu.”

“Yang saya tanya sandal saya, bukan sandal si Anu.”

“Anu, sandalnya hilang.”

“Heh?” Mbah Yai terkejut mendengar jawaban Tejo. Namun setelah itu, senyuman terlukis di wajah Mbah Yai. Melihat wajah Tejo yang pucat dan keringat yang bercucur deras, Mbah Yai merasa kasihan. Ia memberikan seratus ribu rupiah kepada Tejo untuk dibelikan sandal baru di warung terdekat.

Segera Tejo meluncur ke penjual sandal. Ia memilih sandal yang paling bagus karena memang uang yang diberikan Mbah Yai cukup besar. Tejo memberikan uang itu setelah penjual selesai membungkus sandal. Tanpa mau menerima, penjual itu berkata senang jika dagangannya bisa bermanfaat bagi santri, terlebih untuk Mbah Yai. Tidak mau dimarahi Mbah Yai, Tejo mencoba memberikan lagi uang itu ke penjual dengan sedikit paksaan yang dibalut tawa dan pujian, namun tetap saja penjual itu menolak. Ya sudahlah, Tejo tidak mau membuat Mbah Yai lebih lama menunggu. Ia hanya dapat berterima kasih kepada penjual itu, sembari mendo’akan agar dangangannya laris dan bermanfaat.

Dengan takdzim Tejo Menyusun sandal di depan Mbah Yai, lalu mengembalikan uang yang diberikan kepadanya. Mbah Yai heran, uangnya masih utuh. Tejo menjelaskan kenapa uang yang diberikan Mbah Yai tidak berkurang sedikitpun. Setelah mendengar penjelasan Tejo yang sedikit tidak jelas, Mbah Yai berkata, 

“ya sudah, uang itu untuk kamu saja.”

Writter : Taufiq Ridlo

Loading