Pelajar berkepentingan memetik apapun sebagai pembelajaran. Darimana? Dari apapun, di manapun. Menunaikan titah pendidikan kepada para pemeluknya:
“Belajarlah, dimanapun, dengan apa pun, kepada siapapun”.
Sidang pembaca yang budiman, kuceritai mengenai apa yang kurasai terhadap yang satu ini. Ini adalah Film Komang (2025), disutradarai oleh Naya Anindita dan dibintangi oleh Kiesha Alvaro sebagai Raim (Ode) dan Aurora Ribero sebagai Komang (Ade). Sebuah perjalanan spiritual yang dialami Ade Komang—tokoh utama perempuan film itu menuju yang paling romantis. Bercerita tentang perjalanan hubungan meniti perasaan, akankah berujung sejati?
Raim Laode, La pada namanya bermakna “La ilaha illallah”, nampak betul dari namanya saja ia dilahirkan sebagai pemeluk agama yang taat. Dan Komang seorang perempuan Hindu asal Bali yang kemudian menetap di Sulawesi pun besar dan tumbuh kembang di keluarga yang betul-betul menghayati keyakinannya sebagaimana yang telah diajarkan Ibunya. Lalu, pada suatu pertunjukan stand up comedy bertemulah mereka untuk pertama kali.
Mula-mula yang ingin kusampaikan adalah keindahan melalui pluralisme. Yang satu ini bukan melulu mengenai gemasnya romansa anak muda, laki-perempuan dan persoalan receh yang membersamainya. Lebih dari itu adalah pluralisme. Ciamik! Betul Indonesia dengan kemajemukan dan telah ditampilkan dengan indah melalui film, yaitu di Kota BauBau, Sulawesi Tenggara. Perbedaan berdampingan! Sangat dekat dan saling menghargai. Saling mencintai, tidak saling membenci.
Lalu, Cinta adalah Perjalanan Spirituil. Di sana sangat intim dan jenaka, sangat romantis nan mistis. Aku percaya, Bung, percaya betul terhadap perasaan dan kelembutan nurani. Maka saling mencintailah mereka, Ode dan Ade lalu, dijalinlah suatu ikatan tidak pasti yang khalayak menamainya pacaran.
Hubungan mesti berlanjut. Berlanjut senang-senang saja atau kau ikat melalui ikatan sakral bernama pernikahan? Jika sudah cinta jangan melulu ucapnya, buktikan pula melalui sikap. Maka keyakinan cinta diuji di sini.
“Maka jangan kau menjalani keyakinan dengan ragu, jika begitu kau menjalani keraguan bukan keyakinan,” ucap bapaknya Neneng dalam film itu.
Sedang perasaan serumit itu, apalagi manusia! Dengan segala kegamangan dan ikatan yang membersamainya. Ode merantau ke Ibu Kota untuk menjemput rezekinya. Di lain sisi, ada pula laki-laki lain yang mendambakan Ade sebagai partner hidupnya, mapan, tampan, seiman pula. Keyakinan Ode dan Ade diuji di sini. Jarak dan kecurigaan memuncak di antaranya, hingga suatu hari kabar duka datang kepada Ode yang sedang berkarier di Ibu Kota mengenai kepulangan Bapaknya. Remuk redam hatinya. Patah hati seorang perantau adalah kabar kepulangan orangtua di rumah.

Di kampung halaman, di masa berkabung, Ode tentu saja bertemu dengan kasihnya. Ia merasakan penghiburan sejati dan merasai perasaan itu tak mungkin padam. Memuncak!
Perdebatan sengit terjadi antara Ode dan Ade.
“Hanya itu usahamu? Memperjuangkanku?!” ucap Ade.
Mereka berdua akhirnya hanya mampu menangis— suatu ungkapan paling nyata emosional manusia. Ode berkata:
“Satu takdir, tak mungkin bisa ditulis oleh dua pena.”
Keesokan harinya, Ode bertandang ke rumah Ade untuk menyatakan maksud kepada Ibunya Ade, ditolak ia dengan pernyataan yang tak mungkin ia bantah. Sebelum keberangkatan Ode menuju Jakarta untuk kembali berkarier, berpesan sepuhnya:
“Rejeki, Jodoh dan mati di tangan Tuhan. … Dan untuk jodoh, doakanlah ia.”
Kembalilah Ode ke Ibu Kota. Sukseslah ia berkarier sebagai seniman. Dan apa yang terjadi selanjutnya – hidayah itu tiba; keajaiban takdir yang wajib Saudara saksikan sendiri.
Buatku ini bukan hanya sekadar tontonan, ini adalah dakwah yang tiba kepadaku. Kekuatan film ini terletak pada kedalaman emosi yang berhasil disampaikan oleh para aktor, terutama Aurora Ribero (Komang) dan Ayu Laksmi (Meme/Ibu Komang). Momen-momen intim di BauBau dan Bali terasa otentik dan sangat menyentuh.
Namun, sebagai sebuah karya sinema yang membawa nama besar Raim Laode, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan:
Aspek Teknis Pemeran: Meskipun chemistry antar tokoh utama terasa, penampilan Kiesha Alvaro (Raim) di beberapa adegan masih terasa kurang matang dalam menyampaikan dialek Buton yang kental dan khas.
Transisi Alur: Penggunaan latar stand-up comedy di awal terasa sedikit terpisah dengan isu besar pluralisme dan perjuangan cinta. Transisi antara segmen komedi Raim di Jakarta dengan drama keluarga di BauBau terkadang kurang mulus.
Visual: Meskipun sinematografi Robert Cauble indah dalam menangkap lanskap Sulawesi Tenggara, beberapa adegan drama di ruang tertutup terasa kurang dinamis dan kurang maksimal secara visual.
Terlepas dari catatan teknis, pesan yang disampaikan film ini—bahwa keberanian, ketulusan, dan doa adalah upaya tertinggi dalam menjemput takdir—sangat menggetarkan. Aku berkeyakinan mengenai dua nama mula-mula di antara yang 99 merebak ia di keseharian, dan indah sekali agama. ⚘️
Selepas menyaksikan film ini di salah satu mall di Tasikmalaya – dalam perjalanan pulang – aku teringat sebuah ucapan dalang edan:
“Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.” ~ Sujiwo Tejo.
Tasikmalaya, 2025
Writter : Arifin Faturohman
![]()