Jejak Abadi Fatimah al-Fihri: Perempuan di Balik Peradaban Dunia

Sebuah refleksi dalam semangat International Women’s Day

Ngomongin soal peradaban, pendidikan hampir selalu jadi fondasi utamanya. Dari ruang-ruang belajar sederhana, seringkali lahir gagasan-gagasan besar yang akhirnya mengubah arah dunia.

Karena itu, ketika membahas pusat pendidikan tertua, kebanyakan dari kita langsung kepikiran Eropa. Entah itu Oxford, Bologna, atau mungkin Cambridge. Rasanya wajar. Nama-nama itu memang sudah sering muncul dalam sejarah pendidikan dunia, sampai-sampai kita merasa semuanya bermula dari sana.

Tapi siapa sangka, jauh sebelum itu semua, sudah berdiri sebuah pusat ilmu di Fez, Maroko. Dan yang lebih mengejutkan, yang membangunnya bukan raja, bukan pula ilmuwan laki-laki. Melainkan seorang Muslimah.

Namanya mungkin jarang kita dengar di dunia akademik sekarang, bahkan masih terasa asing bagi sebagian dari kita. Namun jejak yang ia tinggalkan tetap berdiri kokoh melintasi waktu, menembus generasi, dan terus memberi makna bagi dunia.

Dialah, Fatimah al-Fihri.

Awal Perjalanan Seorang Perempuan yang Mempunyai Mimpi Besar

Fatimah binti Muhammad al-Fihriya al-Qurashiyah lahir sekitar tahun 800 M di Kairouan, wilayah yang kini masuk ke dalam Tunisia tengah. Ia berasal dari keluarga kaya, keturunan bangsawan, menjunjung tinggi ilmu, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi dan kepedulian terhadap sesama.

Pada masa Raja Idris II di awal abad ke-9 M, bersama keluarganya ia kemudian hijrah ke Fez, Maroko, sebuah kota yang saat itu berkembang pesat sebagai pusat peradaban Islam. Di kota itulah kehidupannya berubah.

Warisan yang Tidak Biasa

Setelah ayah, saudara laki-laki, dan suaminya wafat, Fatimah mewarisi harta yang cukup banyak. Namun alih-alih menggunakannya untuk kepentingan pribadi, ia justru melihat kebutuhan yang lebih besar di sekitarnya, yaitu masyarakat yang haus akan ilmu, tetapi belum memiliki ruang belajar yang memadai.

Dari situlah muncul satu keputusan besar. Fatimah bukan sekadar ingin mendirikan bangunan, tetapi menciptakan ruang yang menumbuhkan cahaya pengetahuan.

Dari Masjid menjadi Pusat Ilmu

Pada tahun 859 M, ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Al-Qarawiyyin sebagai bentuk penghormatan pada tanah asal keluarganya, Kairouan.

Awalnya memang hanya masjid, sekaligus pusat pendidikan dengan landasan nilai-nilai Islam. Tapi justru dari sanalah semuanya bermula.

Masjid itu perlahan berkembang. Tidak hanya menjadi tempat ibadah dan tempat belajar ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat orang-orang mempelajari ilmu-ilmu rasional seperti matematika, fisika, astronomi hingga filsafat.

Seiring waktu, aktivitas belajar di Al-Qarawiyyin semakin berkembang dan terstruktur. Kurikulum mulai terbentuk, para ulama dan ilmuwan mulai mengajar, dan para pelajar datang dari berbagai penjuru.

Hingga akhirnya Al-Qarawiyyin dikenal luas sebagai pusat pendidikan tinggi yang dalam perkembangan modernnya diakui sebagai universitas.

Bahkan lembaga ini diakui oleh UNESCO dan Guinness World Records sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga hari ini.

Bayangkan, sudah lebih dari 1.100 tahun! Berawal dari sebuah bangunan dan dedikasi untuk masyarakat, ia tetap hidup lintas zaman.

Bukan Sekadar Membangun, tetapi Menjaga Proses

Yang membuat kisah ini semakin kuat bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya.

Fatimah tidak sekadar “menyumbang dana lalu selesai”.

Saat pembangunan Al-Qarawiyyin dimulai, ia tidak hanya sibuk mengatur atau mengawasi. Ia memilih sesuatu yang lebih dari itu, yaitu berpuasa sepanjang proses pembangunan dari peletakan batu pertama hingga bangunan itu benar-benar selesai.

Kebayang nggak sih?

Di saat orang lain mungkin fokus pada hasil akhir, Fatimah justru menjaga prosesnya, memastikan setiap langkahnya punya makna ibadah.

Para sejarawan seperti al-Nuwairi dan Ibn Abi Zar mencatat sikap Fatimah ini sebagai bukti ketulusan yang luar biasa. Bahwa apa yang ia bangun bukan sekadar bangunan. Tapi sesuatu yang lahir dari iman, niat, dan pengabdian yang sungguh-sungguh.

Dari Fez untuk Dunia

Dari Al-Qarawiyyin tumbuh dan berkembang banyak tokoh besar yang memberi pengaruh luas, bahkan melintasi peradaban.

Di sana pernah belajar atau terhubung dengan tradisi keilmuan tokoh seperti Ibnu Khaldun (1332–1406 M), seorang sejarawan, sosiolog, dan ekonom yang karyanya Muqaddimah menjadi rujukan penting dalam studi sejarah dan sosiologi modern.

Ada juga Al-Idrisi (1100–1165 M), ahli geografi dan kartografer yang peta-petanya digunakan dalam penjelajahan Eropa pada abad pertengahan.

Kemudian Ibnu Rusyd (1126–1198 M), yang dikenal di Barat sebagai Averroes, seorang filsuf dan dokter yang pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan intelektual di Eropa.

Nama lain yang tak kalah penting adalah Musa bin Maimun (1135–1204 M), atau Maimonides, seorang filsuf dan dokter Yahudi yang dikenal luas dalam bidang hukum dan etika.

Tak hanya itu, ada pula Ibnu Arabi (1165–1240 M), tokoh sufi besar yang pemikirannya terus dipelajari hingga hari ini.

Bahkan jejak Al-Qarawiyyin juga sampai pada tokoh seperti Leo Africanus (1494–1554 M), seorang penjelajah yang mendokumentasikan Afrika Utara, serta Gerbert dari Aurillac (946–1003 M) yang kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II yang disebut-sebut pernah belajar di sana dan membawa pengetahuan angka Arab ke Eropa.

Tradisi keilmuan yang tumbuh di sana pun memberi pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu di Eropa.

Artinya, apa yang dibangun oleh Fatimah al-Fihri tidak hanya berdampak bagi masyarakat di sekitarnya, tetapi juga bagi dunia.

Ia tidak hanya membangun tempat. Ia membangun peradaban.

Refleksi untuk Hari Ini

Di momen International Women’s Day ini, kita masih sering mendengar tentang empowerment dan kesetaraan.

Namun, jauh sebelum semua itu menjadi wacana yang ramai diperbincangkan, Fatimah al-Fihri telah lebih dulu melakukannya.

Ia membuktikan satu hal yang seharusnya membuka mata kita:

Perempuan bukan sekadar “pengikut” dalam sejarah, melainkan pembentuk peradaban itu sendiri.

Karena itu, pertanyaannya hari ini bukan lagi:

Apakah perempuan bisa?

Sebab jawabannya sudah jelas bisa, dan telah terbukti sejak berabad-abad lalu.

Yang justru perlu kita tanyakan adalah:

Apa yang ingin kita bangun hari ini? Warisan seperti apa yang ingin kita tinggalkan?

Sebab bisa jadi, di antara kita, para Muslimah Gen Z, sedang tumbuh sosok-sosok baru yang akan mengubah dunia, seperti Fatimah al-Fihri pada masanya.

Dan siapa tahu… itu adalah kamu.

Loading