SA KAPOK BERMAIN DAUN BUNGKUS ITU LAGI

Karya: Dandy Muh Irawan (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)

Seorang Anak Desa dari Ujung Timur Negeri yang bernama Liben. Suara ayam yang begitu nyaring berbunyi dengan merdu membangunkannya dari tidur yang sangat nyenyak. Enggan membuka mata namun,akhirnya dengan perlahan-lahan ia ingin membuka mata.

  “Demi Alek”….(Liben terkaget) karena melihat matahari yang sudah mengeluarkan sinar yang menyilaukan kamarnya. Liben pun bergegas lari menuju kamar mandi dan tanpa sarapan pagi untuk segera menuju ke sekolah Liben, SDN Yakomena Fak-fak Papua Barat. Dengan raut wajah yang takut dan detak jantung yang berdebar-debar karena kesiangan untuk datang ke sekolah, Liben Pun…..

“Sioo…Sy Terlambat Lagi… aduhhh!! Menuju gerbang sekolah 

 (muka cemas)”….

Satpam   : “ Liben Ko Kenapa Datang Terlambat lagi….ada bikin apa di rumah ”?

                     …terlambat Trus haa! (nada Kesal bertanya)

Liben     : “ bapak.. Sy cuman ketiduran sebentar saja bapa…, Hanya terlambat 

        beberapa menit saja Moo…” (* muka berharap) 

Satpam   : “ Kau ketiduran karena Apa kah… liat kau punya teman-teman datang tra 

     terlambat semua, hanya kau saja!..”

Liben     : “ Sya Ketiduran karena kerjakan tugas Pak…Mohon Lahh pak…”

Satpam  : “….Karena Saya barusan liat di buku Absen Terlambat, Kau sudah lebih 

     dari  3x terlambat jadi,…saya tra bisa kasih masuk kau ke Kelas….”

Liben     : “ Terus sya  harus ngapain bapa satpam………..”?

Satpam   : Itu bukan saya pu Urusan…lain kali jangan sampai Terlambat…Ingat 

                konsekuensinnya…..Dengar Eee!

Setelah mendengar perkataan satpam sekolahnya, Liben berpikir “ Harus kemana ya aku “…..(*kan aku bolos main ke hutan ah)

      Bergegas Liben menuju arah hutan untuk menghilangkan kejengkelannya karena dilarang masuk kedalam kelas, selama menuju perjalanan ke arah hutan, Liben menemui beberapa anak seumurannya yang tidak sekolah karena tidak ada biaya yang Bernama Aisake,Maruna dan Filindo untuk sama-sama diajak bermain Bersamannya kearah hutan.

Liben   : “ We Aisake, Maruna Dan Ko Filindo….kam (Kalian) 3 ada mau bikin apa 

        disini ….?” (Ucap Liben bertaya kepada temannya)

Aiske    : “ Kitorang (Kita) ada main-main saja dulu sebelum ke kebun bantu Mace 

      dan Pace (Ibu dan ayah) cabut Singkong untuk dijual ke Pasar….”

Liben    : “ Kamorang (Kalian) ada main apa? Su selesai kah…..”?

Maruna : “ Kita tadi ada main Kayu Malele, tapi su selesai karena kita bertiga su 

       capek…Hufft” (Nada ringan sambal kelelahan)

Fillindo : “ Spa (siapa) suruh kau datang lama…!”

Liben     : “Sioo kam semua begitu sekali. Oke sudah yow, Eh lupa gimana sy ajak 

     kamorang main ke hutan kah…Keliling-keliling Saja….Ada yang 

     mau….”?

Filindo  :  “Gimana ikut kah Tra’da (Tidak)..”?(sambil mencolek Aiske dan Maruna)

     Aiske dan Maruna pun Bersama-sama menganggukkan kepalannya (menyatakan iya tanpa suara)

Liben   : “Oke gas, sekarang mari kita berempat jalan…”

    Siang hari yang sangat Terik dengan sinar matahari tepat berada di atas kepala mereka yang sama-sama menyusuri hutan untuk sekedar berkeliling saja. karena mereka kelelahan hanya berjalan-jalan dan mengelinlingi hutan saja, tibalah mereka di satu pondok hutan yang dibuat oleh masyarakat Pace-pace papua sebagai tempat berteduh Ketika hujan tiba yang terbuat dari Daun pohon sagu sebagai atapnya dan kayu matoa sebagai kerangka rumah pondok tersebut. 

    Mereka berempat bercengkrama berbicara dengan ceria, dengan Liben menceritakan beberapa kisah yang ia dapati selama sekolah yang duduk di kelas 4 seklah dasar agar kawan-kawannya yang putus sekolah mengetahui cerita-cerita menarik yang ia dapatkan.

     Beberapa menit kemudian datanglah seorang pemuda kisaran umur 20 tahun yang Bernama Bang (Bg). Arfail datang kearah mereka berempat dengan membawa beberapa karung berisi hasil kebun berupa singkong, Talas hutan dan beberapa kilo Sagu untuk dijadikan makanan pokok masyarakat Papua. Semakin dekat pemuda tersebut mendekat kearah pondok dan mendekati anak-anak berempat tersebut dan berkata…

Bg Arfail : “ Weee…Anak kecil kalian ada bikin apa di dalam Hutan jam segini…”?

        (Ucap Arfail, dengan menatap baju Liben) 

Liben    : “   Bah Bang…Kitorang (kita semua) hanya keliling saja terus diam-diam 

        saja di pondok sini…Tra (tidak) macam-macam,….Amannn!!! ”

        (raut wajah yang takut dengan sedikit garukan kepala) 

Maruna   :  “Iyo bang…Su betul yang Iben bilang….demi alekkk (iyo) ….heheheheh”

Bg Arfail : “ Baru Iben kenapa ko(kau) masih pakai seragam sekolah di hutan 

         sini…Jangan-jangan Ko (kau) Tra (Tidak) Pigi sekolah to?…Jujur!”

Liben       : “ Ohh iyo…hehehe sy tadi ada terlambat sedikit saja,Tapi tra bisa masuk 

         Lagi ke dalam kelas….”

Bg Arfail  : “ Sioooo…..,sayang sekali Oooo….(sambil geleng kepala). Oke sudah 

   kam lanjut Main Sa (saya) ad acari sesuatu di belakang    

   pondok…Jangan       ada yang ikut !!!….”

Serentak Liben,Maruna,Aiske dan Filindo Oke bang….Ko (kau) lanjuktkan sudah…

    Setelah lumayan lama tanpa balik kearah pondok, Liben berinisiatif mengajak Maruna, Aiske,dan Filindo unutk menemui bang Arfail yang agak jauh dari belakang pondok.Karena penasaran yang dilakukan oleh bang arfail, Iben menyeletuk bersuara dan berkata..

Liben        : “ Bang ada petik daun apa itu…?” (sambil terheran melihat banyak daun 

        yang dipetik kedalam karung)

Bg Arfail  : “ Kamorang (kalian)….kan tadi sa su bilang jangan kesini..pergi sana 

 kalian masih kecil jangan kesini….!!! (wajah ketakutan karena ketahuan  anak kecil)

Filindo      : “ Habis dari tadi katong(kita) ada tunggu abang tra (tidak) balik ke 

           pondok,jdi kita semua cari abang…”

      karena pembicaraan Filindo tidak digubris oleh bang Arfail, mereka pun penasaran daun apa yang sedang dipetik untuk dimasukkan ke dalam karung putih besar.

Bg. Arfail   : “ Kam (kalian) jangan kasih tau orang lain kalua disini banyak daun 

           bungkus..karena banyak yang cari….!”

Dibuat Heran mereka apa sebenarnya Daun yang dipetik itu….

Liben          : “ Bang Arfail emang Daun Bungkus itu apa bang….

Dengan raut wajah panik untuk memberitahukan daun bungkus tersebut kepada anak-anak itu…..

Bg. Arfail    : “Sa(saya) kasih tau kalian tapi, Kam(kalian) janji jangan dibuat main  

Eeee….”

Mereka berempat saling bersautan

     “ Aihhh…Paling lama eee …kasih tau sudah bang….Kitorang(kita semua) pasti janji……”

Bg. Arfail   : “ Jadi…Daun Bungkus itu…Daun untuk Memperbesar ko(Kau) punya 

           alat kelamin yang ada di bawah itu Eeee…,Ngerti..?”

Filindo       : “ Ooo….Gitu bang”

Maruna & Aiske    :   “ Hmmmm…..Wooww” (sambil terheran)

Libena       : “ Trus da(dia) punya cara pakainya itu gimana bang…”?

Bg. Arfail  : “ Da(dia) Punya cara pakai tu (itu), Kam (kalian) tinggal ambil beberapa     

           daun bungkus 5 kah atau 3, Trus kamorang(kalian) Remas-remas 

           sampe keluar air hijau dari daunnya….terakhir kam gosong air Daun 

           Bungkus ke alat kelamin….tunggu sampe da(dia) reaksi baru 

           membesar…..”

Merasa karung yang Arfail bawa untuk mencari Daun Bungkus telah penuh,Arfail akhirnya bergegas untuk keluar dari hutan…

Bg. Arfail  : “ Weee…anak-anak kamorang Jangan ambil daun itu Eee… 

                        Kam(kalian) Masih kecil,itu orang dewasa saja yang boleh….Abang  

                        mau pi(Pergi) jalan duluan….Kamorang jangan sampe malam di 

                        dalam hutan  sini….!!!”

Dengan Langkah yang Panjang Arfail langsung meninggalkan anak kecil tersebut….

Seketika itu pula,Liben merasa penarasan pada Daun Bungkus dengan ingin mencobannya Bersama Teman-Temannya…

Liben        : “Weee…,kamorang (kalian) mari kita coba kah…diam-diam saja 

                      Tapi….!”

Mereka bertiga masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Liben,karena mereka merasa penasaran akihirnya mengiyakan yang di ucapkan Liben.

Maruna : “ Sa(saya) Ikut sudah….”

Aiske    :   “Hmm…oke”

Filindo  : “…sy juga deh!” (dengan muka khawatir) 

Liben     : “ kalo(kalau) gitu sabar eee….Sa(saya) panjat pohon sagu dulu karena 

                   tinggal diatas Daun Bungkusnya….”

          Mereka bertiga Maruna,Aiske dan Filindo terduduk sambil menunggu Liben turun dari pohon untuk mengambil Daun Bungkus yang Tersisa sedikit diatas.Beberapa menit kemudian Liben berhasil mendapatkan Daun Bungkus tersebut.

Liben    : “Weee…kalian sini dulu…Sa(saya) sudah dapat daunnnya…”

Filindo  : “ ada kah yang mau coba pertama…,Aiske gimana..?”

      (sambil menunjuk ke arah Aiske)

Aiske    : “Aihh….Jangan Sa(saya)….Maruna saja,kau Eeee…!”

Karena terjadi perdebatan diantara teman-temannya,Liben pun menunjukkan dirinya sendiri untuk mencoba Daun Bungkus tersebut lebih awal.

Liben    : “ kalo kam(kalian) tidak ada yang mau coba pakai pertama biar saya saja 

       sudah, Sa(saya) mau remas-remas daun bungkusnya dulu…baru Sa(saya) 

       Oles Cairannya di kemaluanku….”

Melihat Liben yang tanpa takut untuk mengoleskan cairan Daun Bungkus ke kemaluannya, kawan-kawannya pun masih khawatir karena mengingat perkataan Bang Arfail tadi.

Liben   : “Weee…Sa(saya) sudah selesai oles nih…,giliran sapa(siapa) yang mau 

   berikutnya….?” (Ucap Liben dengan nada meyakinkan kawannya)

Aiske   : “Iben Sa(saya) Takut Eeee…Ndak jadi Ahh…!”

Filindo  : “Gimana yak…..ikut Aiske saja saya…”

Maruna : “Sa(saya) juga…jangan macam-macam sudah”

Liben    : “Demi Kasus…Eeee tadi kamorang(kalian) bilang mau pakai juga”(muka 

    kesal kepada teman-temannya)

    karena hanya Liben saja yang mau memakai Daun Bungkus itu dan waktu telah  Menunjukkan matahari mulai terbenam,mereka berempat langsung bergegas keluar dari hutan tersebut untuk menuju rumah masing-masing.Sesampainya di rumah liben pun langsung membersihkan tubuhnya kecuali daerah alat kelaminnya karena kaingintahunnya adanya reaksi dari Daun Bungkus tersebut.

     Malam pun tiba, Liben bersiap-siap untuk tidur dikamarnya sendiri.Karena waktu Liben membersihkan tubuhnya selain daerah Kemaluannya Daun Bungkus itu akhirnya bereaksi Ketika malam hari,Ia merasa gatal dan panas pada daerah kemaluannya/alat kelamin. Pagi harinya Liben merasa bahwa alat vitalnya menjadi besar dan sangat merah karena mengalami pembengkakan karena reaksi dari Daun Bungkus itu yang Liben pakai semalam.Hingga alhirnya Liben pun memanggil Pace(ayah/Bapa) dan Mace(ibu/Mama) nya karena merasa khawatir.

Liben  : “Mamaaa….Tolong Sa(saya) dulu sini cepat….Ade tra kuat ada gatal dan 

    panas ini!” (sambil menahan rasa gatal dan panas)

Mama : “Ko(kau) kenapa lagi….pagi-pagi sudah teriak Bokar(besar) sekali…?”

Liben  : “Ini Maaa….,Sa(saya) punya alat kelamin..ada rasa gatal dan panas sekali 

   terus da(dia) juga merah…Sa(saya) takut)”

Mama : “Coba sini Mama liat dulu……Demi Tuhan ko(kau) kemarin habis main apa 

   ini, bisa besar begitu kau punya alat kelamin” (dengan muka marah)

Liben  : “Kemarin tu saya ada main Daun Bungkus dihutan Maaa….”

Mama  : “Astaga Tuhan….Su(sudah) jadi bengkak begitu….mari kita ke rumah sakit 

    sudah biar ko(kau) dapat obat dari dokter kasih hilang rasa sakitnya….”

Bersiap-siap mamanya Liben memanggil bapak liben untuk mengantar anaknya ke rumah sakit karena tak kuat melihat liben menahan rasa panas dan gatal akibat dari Daun Bungkus tersebut.

Mama : “Bapaa…kesini dulu(memanggil bapa liben yang ada diteras rumah) liat 

       anakmu kasian sekali…”

Bapa   : “Kenapa Dia(liben)?, dimana dia Maa….?”

Mama : “Liben ada di kamar kasian anakmu,Kemarin habis main Daun Bungkus 

   dihutan…”

Bapa   : “Astaga Liben…..Mari kita bawa dia ke Rumah sakit buruan…!!!”

Akhirnya Orang tua liben membawanya ke rumah sakit umum daerah terdekat agar liben cepat mendapatkan penangganan untuk menghilangkan rasa sakit gatal,kemerahan dan pembengkakan pada alat vitalnya.

Setelah beberapa lama diperjalanan tibalah mereka dirumah sakit,Liben langsung dimasukkan ke dalam IGD untuk mendapatkan penangganan Bapa Liben menuju Administrasi untuk mengurus biaya obat dan penangganan liben. Hampir 30 menit Liben berada diruang IGD diberikan obat rasa sakit gatal dan panas, mulai mereda.

 

Dokter  : “Aduh…kenapa kau punya alat kelamin jadi begitu habis main Apa 

     Nak…”(Nada pelan mengambil hati Liben untuk jujur)

Liben    : “Aaaa…Saya kemarin ada main Daun Bungkus dihutan Dok…”

Dokter  : “Kau pakai berapa Daun Bungkus itu kau kasih ke alat kelaminmu…?”

Liben    : “Sa(saya) lupa Dok kayaknya sekitar 8 lembar lebih….” 

      (dengan wajah tersenyum tipis)

Dokter  : “ Aduhhh….Masih kecil baru mainan aneh-aneh…untung saja kau punya 

alat kelamin cepat di Obati,kalau tidak akan membesar tidak bisa balik kembali lagi itu…..Kapok kah tidak..?”

Liben    : “Iya Dok…Sa(saya) kapok,tidak akan main dan pakai Daun Bungkus itu 

     Lagi…..”

  Setelah mendapat peringatan dari dokter kulit yang menanggani masalah alat kelamin Liben akibat efek dari Daun Bungkus tersebut,Kini Liben sedang mengalami masa pemulihan dan rutin menggunakan obat salep agar alat kelaminnya lekas membaik dari kemerahan dan sedikit pembengkakan yang ditimbulkan. Karena ini adalah permasalahan awal yang terjadi pada anak dibawah umur akibat kurang adanya pengawasan orangtua pada anaknya maka pihak rumah sakit mengambil Tindakan kepada Dinas Kesehatan daerah Fak-fak untuk memberikan penyuluhan/sosialisasi kepada seluruh orang tua tentang kandungan dan efek yang diakibatkan dari Daun Bungkus bagi Kesehatan alat kelamin apabila dipakai oleh anak dibawah umur ataupun orang dewasa.

      Berdasarkan hasil pengamatan tentang kandungan Daun Bungkus sangat berbahaya bagi Kesehatan alat Kelamin karena kulit kelamin yang tipis mampu merusak jaringan didalamnnya sehingga terjadi pembengkakan. Daun bungkus biasannya dilakukan oleh orang dewasa papua tidak lebih dari 5 lembar daun,Hingga saat ini masih belum ada aturan pakai yang jelas tentang cara pemakaiannya.semoga dengan adanya penyuluhan/sosialisasi dari pemerintah mampu memberikan pemahaman untuk menjaga Kesehatan alat kelamin dengan tidak memakai bahan dasar yang belum diketahui kadar/Efek yang akan ditimbulkan kedepannya bagi Kesehatan tubuh.

Share this post

Tinggalkan Balasan