Karya Lomba Cerpen DN 14 CSSUINWS Sastra

SANTRI BUKAN SEMBARANG SANTRI

Karya: Danov Istighfarrahman (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)   Kalau ada yang bilang sekolah di pesantren hanya untuk anak bodoh dan jalan terakhir untuk anak dengan NEM rendah saat kelulusan, bawa orangnya ke depanku. Karena aku tahu dengan pasti bukan seperti itu kenyataan yang ada. Namaku Dani, enam tahun terakhir di hidupku […]

Tidak ada komentar Selengkapnya
Karya Lomba Cerpen DN 14 CSSUINWS Sastra

SECERCAH ASA GADIS PESANTREN

Aku adalah si gadis pesantren, orang-orang memanggilku Luna. Ya itu namaku. Aku adalah gadis pesantren dari ujung timur pulau Jawa, pesantren kecil yang memiliki fasilitas jauh dari kata serba ada. Hidupku tak banyak berkembang, sebab rasa frustasiku masuk pesantren dengan kata paksa. Namun, aku sadar bahwa untuk menjadi manusia yang sejahtera harus bersusah mengepakkan sayap […]

Tidak ada komentar Selengkapnya
Karya Lomba Cerpen DN 14 CSSUINWS Sastra

SEHAT ITU SULIT

Karya: Muzdalifah (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)   Ya, sehat itu memang betulan sulit! Selain mahal karena biaya yang dikeluarkan jika sudah terjangkit penyakit, menjaga kesehatan itu juga sulit! Contoh saja dari pengalaman Alsa. Kina kini sedang duduk di kafetaria sekolahnya. Ia merasa miris dan iba bersamaan pada warga sekolah ini, banyak […]

Tidak ada komentar Selengkapnya
Karya Lomba Cerpen DN 14 CSSUINWS Sastra

SELAWAT SAKTI

Karya: Gansar Dewantara (Peserta Lomba Cerpen DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)                  Selawat itu ditulis tangan dengan tinta hitam di kertas kuning. Kertas yang sama persis dengan kertas kitab-kitab di pesantren. Rangkaian pigura selawat sakti itu dari galih gaharu. Siapa saja yang masuk rumah itu pasti disambut wewangian khas nan alami.  Hawa hapal betul dengan […]

Tidak ada komentar Selengkapnya
Karya Lomba Cerpen DN 14 CSSUINWS Sastra

SELEPAS PETANG

Karya: Oktari Rosalia (Peserta Lomba DN 14 CSSMoRA UIN Walisongo)     “nduk… ga bole izin saja?” Entah harus menjelaskan sampai berapa kali sampai ibu mengerti. Dunia malam saat ini sudah tidak segelap zamannya dan pertemananku tidak semengerikan yang ia kira, paling hanya beberapa orang yang merokok. Sambil merapihkan jaket jeans bekas almarhumah Mbak Fitri, […]

Tidak ada komentar Selengkapnya