Karya: Ahmad Agil Tsabata (CSSMoRA UIN Walisongo 2021)

 

Haruskah aku kembali,

memasuki dunia yang awalnya hanya milikku?

Aku dilahirkan oleh seorang pengarang yang masa keemasannya sudah berlalu, tertinggal dalam masa dan tempat yang ia sendiri tidak tahu. Seperti roda yang berjalan terus dan bekasnya suatu saat bisa terhapus oleh hujan dan angin, begitu jugalah nama ayah akhirnya hilang dari dunia kepengarangan, terhapus oleh perjalanan waktu. Masa lalu mengisahkan bagaimana ia menjadi guru bagi pengarang yang lahir sesudahnya. Gaungnya terdengar ke segalapenjuru, membuat bibir pendengarnya berdecak dan mengeluarkan puji sanjungan. Dialah ayahku, lebih tepatnya ayah penaku, yang melahirkan aku.

Kisahku dahulu kala  dimulai ketika ayah pindah ke tempat tinggal yang baru. Kesulitan-kesulitan datang terus menerus seperti hujan mengguyur tanah gersang, menjadikannya lumpur yang tidak semua orang bisa menginjaknya. Harta kekayaan yang dimiliki sudah habis untuk mengobati puteri satu-satunya, Ara, yang terkena penyakit lupus. Ara yang dulunya sehat mulai kurus kering, rambut yang menjadi mahkotanya satupersatu runtuh bagai daun kering jatuh dari tangkainya.Kegiatan mengarang yang tekun dilakoni ayah perlahan-lahan berkurang karena lebih sering menemani Ara di rumah sakit. Uang yang diperoleh dari hasil mengarang juga mulai habis. Vonis dokter tentang usia Ara membuat ayah tidak berfikir lain kecuali tentang kesembuhan. Buat apa jadi pengarang besar kalau tidak ada anak yang ikut merasakan? Dengan mengharap kesembuhan, ayah mengubah benda-benda dalam rumahnya menjadi uang. Kursi, lemari, meja, hingga pisau dapurpun ayah jual. Rumah tempat menyimpan banyak kenangan, yang dibangun oleh jerih payah pikiran dan ribuan goresan pena, akhirnya dijual juga.

Biaya yang mahal untuk membayar kematian Ara, puteri yang dicintainya.

Ayah meninggalkan rumah tepat dua jam setelah pemakaman Ara.Dia tidak ingin terlalu lama mengenang masa-masa ketika Aramasih hidup. Ayah meninggalkan kota yang telah membesarkan namanya sekaligus menghancurkan hidupnya. Bersama dengan istrinya, ayah sekarang tinggal di pinggiran kota P. Ada tempat sewa kost yang tidak terlalu menguras biaya. Ayah menyewa tempat ini dengan sisa uang penjualan rumah. Dan disinilah aku dilahirkan, dalam kamar kost berukuran tiga kali empat meter, lewat buah pikiran yang menetes berjalan ke ujung pena dan tergores di atas kertas, dalam buku bersampul merah.

___________ *** ___________

Dimanapun seorang pengarang tinggal, kehidupannya tidak akan jauh dari kertas dan pena, dari cerita dan legenda. Begitu pula dengan ayah. Kematian Ara tidak membuat ayah berhenti mengarang dan menggantung pena. Siang hari ayah kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan istrinya, malam hari ayah menulis cerita. Mengarang, bagi ayah, adalah anggur yang sekali diminum akan membuat peminumnya ingin minum lagi. Mengarang memberikan ketenangan tersendiri yang hanya ayah dapat merasakannya tanpa orang lain dapat mengerti. Membuat ayah lebih hidup, membuat lupa akan sekelilingnya seperdelapan detik setelah mulai menggoreskan pena.

Aku, oleh ayah, digambarkan sebagai pemuda yang permukaannya terlihat teguh namun lemah dan keropos didalam. Dalam buku kecil ini aku hanya hidup seorang diri tanpa ada satupun orang dapat aku ajak bicara, bahkan untuk sekedar melihat aku, tak adaseorangpun. Aku dilahirkan bukan untuk menikmati hidup, melainkan untuk dinikmati oleh sekian banyak mata pembaca. Rumah yang aku tempati dalam dunia ini cukup luas, dengan hamparan rumput hijau sebagai halamannya. Pohon karet berjejer disebelah kanan rumah seperti deretan anak sekolah dasar saat mengikuti upacara bendera. Tidak ada burung yang berkicau saat aku bangun dari ranjang tempat tidur, juga tidak ada satupun serangga mengganggu, karena memang akulah satu-satunya hewan bergerak yang hidup di dunia ini, dunia cerita.

Ayahku, si pengarang itu, hendak menggambarkan keadaan hidupnya melalui aku. Kehidupan ayah yang hancur dikisahkan dalam cerita ini dengan aku sebagai tokoh utamanya. Sebuah kehidupan sunyi yang harus aku jalani tanpa sedikitpun aku bisa mengelak. Bahkan untuk diratapi, kehidupan ini sungguh sangat tidak layak. Apa yang dapat dilakukan oleh aku yang seperti ini, aku hanya sebuah goresan pena yang tindak-tanduknya diatur oleh si pengarang, oleh ayahku.

Sebulan lebih telah berlalu. Ayah yang kian hari kian bosan dengan hidupnya sendiri mulai menyudahi ceritaku. Di akhir cerita yang ditulis ayah, tetap aku hidup sendiri. Disodorkannya cerita ini pada ibu -istri ayah- yang kebetulan malam itu sedang duduk di tepi ranjang. Butuh dua hari bagi ibu untuk menuntaskan ceritaku. Cerita yang cukup panjang dan sangat tidak menyenangkan.

“Ceritamu ini, mas, apa tidak terlalu sunyi?” Samar-samar aku dengar perkataan ibu. Ayah mengatakan bahwa ceritaku adalah gambaran dari hidup yang dia rasakan. Kebahagiaannya terkikis sejak ditinggalkan Ara.

“Biarlah pemuda dalam cerita itu yang mewakili. Dengan melihat dia orang akan tahu bagaimana keadaanku.” Lanjut ayah. Aku sepenuhnya mengerti mengapa ayah perbuat ini. Ayah sudah tidak bisa kembali pada kehidupannya yang lalu, saat kebahagiaan mengalir deras menerpa dirinya.

Ayah kemudian menyerahkan duniaku pada ibu untuk dijaga dan dirawat. Bagai mendapat oasis ditengah gurun pasir, aku dirawat dengan penuh cinta kasih seperti merawat anak yang lahir dari rahim sendiri. Ruang dalam hati ibu yang sebelumnya ditempati Ara, kini aku tempati. Dari tangan ibulah aku mulai merasakan kebahagiaan. Tangan ibu dengan lincah memberikan warna dalam duniaku, dan terasa lebih berwarna dengan hadirnya seorang perempuan yang lahir dari buah pikiran ibu.

Pertemuanku dengan perempuan ini bermula ketika pada suatu siang dia datang berkunjung kerumah. Parasnya yang cantik mampu menahan arah pandangan mata, seolah aku tidak lagi dapat memfungsikannya dengan baik.Gaun coklat yang dia kenakan terlihat  cocok dengan warna kulitnya. Ah, sepertinya dia cocok dengan warna apa saja.Sempurna, kesan pertama yang terbersit dalam hati saat aku melihatnya. Matanya sebening embun, dan kebeningannya dijaga oleh bulu mata yang lentik dan tebal, melindunginya dari debu dan angin. Bukan berlebihan ungkapanku tentang dia, memang begitulah perawakannya. Permunculannya menampakkan bahwa dia adalah perempuan yang teguh dan kokoh, tapi sinar matanya berisyarat lain. Dari matanya aku pahami bahwa dia sedang mencari sesuatu yang aku tak mengerti. Matanya lebih banyak berkata daripada bibirnya. Dan tentang bentuk fisiknya yang lain tak perlu aku ceritakan panjang lebar disini. Agak sulit untuk mengatakannya. Kosa kata yang aku ketahui tidak cukup mewakili.Disinilah kemudian dia tinggal, di rumahku, dalam duniaku. Hanya berdua, seperti Adam dan Hawa pada awal permunculannya.

Belum ada akhir untuk hidup yang aku jalani karena ibu tidak sempat menuliskannya. Ibu lebih dulu meninggalkan aku dan ayah, kembali pada pencipta yang sebenarnya.

Dalam duniaku masih ada beberapa lembar kosong yang belum sempat diisi ibu, sementara ayah tidak juga menuliskan akhir untuk ceritaku karena hidupnya sudah sama sekali kosong. Kini ayah hanya tinggal sendiri. Anak dan istrinya sudah lebih dulu pergi menjalani kehidupan baru, sembari menanti untuk berkumpil kembali. Penantian yang akan terasa sangat lama mengingat usia kehidupan yang masih muda.

Ayah memilih untuk tidak menerbitkan ceritaku dan menyerahkan aku pada kenalannya sesama pengarang sambil menitip pesan, “Bacalah cerita ini, dan tuliskan untukku akhir cerita pada halaman-halaman kosong dibelakang. Jika kau tidak mau menuliskannya, berikan saja pada pengarang lain yang kau kenal dan sampaikan juga pesanku ini padanya.”

Begitulah aku berpindah dari satu tangan pengarang ke tangan pengarang yang lain. Entah sudah berapa tangan memegang duniaku, dan berapa pasang mata telah mengetahui kisahku. Dari tangan-tangan mereka aku peroleh sedikit demi sedikit kebahagiaan lain yang aku rasakan berbeda dari kebahagiaan yang didapat dari tangan ibu. Sekalipun berbeda, tetap itu aku rasakan sebagai karunia yang patut aku syukuri.

Tetap aku hanya tinggal berdua dengan si mata bening sekalipin beberapa tangan telah menambahkan warnabaru untukku. Hingga pada suatu ruang dan waktu yang tidak ku ketahui, aku berada di tangan pengarang yang sentuhan jarinya teramat kasar. Dia menambahkan satu tokoh dalam duniaku. Seorang pemuda yang perawakannya lebih tegap tiba-tiba hadir ditengah-tengah kami. Dari pengarang itu kemudian aku mengenal warna baru, hitam pekat. Warna itu lebih mendominasi duniaku. Warna yang sedikit demi sedikit mengikis kebahagiaan yang aku rasakan. Banyak halaman kosong dihabiskan oleh si pengarang untuk menceritakan orang baru ini. Orang yang tak pernah sekalipun aku undang dan datangnya tidak pernah aku harapkan.

Sebelum ceritaku benar benar berakhir dan sebelum halaman terakhir diisi dengan cerita yang mungkin tidak aku senangi, melalui sebuah celah kecil aku keluar dari dunia yang awalnya hanya aku seorang didalamnya. Dengan bekal seadanya dan dengan hati yang sudah tanpa isi, aku keluar menuju dunia yang benar-benar nyata, meninggalkan si mata bening dan orang baru itu. Dunia baru ini berbeda dengan dunia yang aku tempati sebelumnya. Banyak benda dan makhluk baru yang tidak pernah aku kenal. Pernah suatu ketika aku tidur di pinggir jalan dan tiba-tiba seonggok makhluk kecil bersayap mengganggu tidurku. Tanpa sedikitpun belas kasih, dengan perasaan terhina karena disakiti, makhluk kecil itupun aku lenyapkan. Belakangan aku ketahui kalau makhluk kecil itu disebut nyamuk dan memang biasa mengganggu orang tidur. Ah, dunia ini memang aneh. Tapi itu bukan masalah untukku, karena tujuanku disini hanya satu: melenyapkan ayah orang baru yang menyusup ke duniaku sebelum dia sempat menulis cerita di lembar terakhir.

Setelah beberapa hari mencari, dia -ayah orang baru itu- aku dapati sedang duduk di pinggiran taman kota. Pandangannya tertuju pada pohon palm yang berderet didepannya. Nampaknya dia tidak menyadari sedang aku amati. Dengan langkah pelan aku mendekatinya dari belakang. Dia tetap pada duduknya. Berbekal belati yang aku bawa dari duniaku sebelumnya, aku tusuk punggungnya dari belakang. Dada dan leher juga aku tusuk. Tiga tusukan yang membuat dia merengang nyawa seketika. Aku mendengar suara mengorok saat lehernya aku tusuk, darah muncrat dari tenggorokan dan membasahi tanganku. Baju yang aku pakai juga tak luput dari percikan darahnya. Tangan yang telah melahirkan orang baru itu kemudian aku potong dan aku lemparkan ke tengah jalan, tergilas oleh benda beroda delapan -aku tidak tahu namanya- yang kebetulan lewat. Hancur. Remuk.

Sekarang buku bersampul merah, yang sebelumnya adalah dunia tempat aku tinggal, telah berada ditanganku. Aku buka halaman terakhir, sudah terisi setengah. Aku tidak membaca tulisan diatasnya karena memang aku tidak suka. Ku lihat percikan darah juga mengenai halaman terakhir. Sekarang, apa yang harus aku tulis?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *