Karya: Nadra Maharotul (CSSMoRA UIN Walisongo 2021)

 

(Bagian 1)

Aku adalah seorang mahasiswa yang sangat cerdas.

Bagaimana tidak? Aku merupakan lulusan pesantren yang sehari-harinya mengaji kitab klasik. Hafalan Al-Qur’an sudah kugenggam, bait-bait nazam pun sudah ada di luar kepala. Diriku terlihat cerdas sekali, apalagi jikalau dibandingkan dengan teman-teman yang ada di lingkungan perguruan tinggiku.

Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo. Pelajaran- pelajaran yang diberikan oleh Dosen kepadaku rasanya sangatlah dangkal. Bagiku, itu hanyalah sekadar megnulang kembali pelajaran yang sudah kukuasai di pesantrenku sebelumnya.

Di saat teman-temanku memberikan presentasi terhadap sebuah materi keagamaan, aku pasti akan langsung menyeletuk dalam hati, “Bodoh sekali dia! Pelajaran semudah ini saja masih banyak salahnya.”

Ya. Mereka semua bodoh. Akulah yang paling cerdas.

Aku bicara begini bukan tanpa bukti. Karena setiap kali para Dosen memberi kami tugas, teman-temanku biasanya akan berulang kali memperbincangkan soal tugas tersebut di grup WhatsApp. Mereka mengeluh kesulitan, tugas yang diberikan tidak masuk akal, ini lah, itu lah, banyak bacot deh!

Berkebalikan dengan mereka, aku selalu dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan sangat cepat. Tentu saja, aku tidak akan mengumbarkan soal kelihaianku dalam mengerjakan tugas di grup WhatsApp. Yang ada, nanti teman-temanku malah bertanya padaku terkait tugas mereka. Urus saja tugas kalian masing-masing, lah! Sudah mahasiswa kok masih manja. Belajar sendiri dong, kalau belum paham!

Pokoknya, aku pintar. Aku cerdas. Aku brilian.

Dan aku bangga bisa menjadi orang yang seperti ini.

(Bagian 2)

Aku adalah seorang mahasiswa yang sangat jauh dari kata cerdas.

Bagaimana tidak? Aku belum pernah seumur-umur mengenal apa itu kitab klasik. Tatkala Dosen memberikanku materi berbahasa Arab yang diambil dari kitab klasik, aku merasa pusing bukan main. Seakan aku bertanya, “Ini apa-apaan sih?”

Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo. Pelajaran- pelajaran yang diberikan oleh Dosen kepadaku rasanya sangatlah sukar. Bagiku, semua itu rasanya mustahil untuk bisa dipelajari dan dikuasai.

Di saat teman-temanku memberikan presentasi terhadap sebuah materi keagamaan, aku pasti akan bertanya-tanya di dalam hati, “Kok mereka bisa paham sih, dengan pelajaran sulit seperti ini?”

Ya. Mereka semua terkesan sangat pintar.

Dan aku mungkin adalah yang paling bodoh di antara mereka.

Aku bicara begini bukan tanpa bukti. Karena setiap kali para Dosen memberi kami tugas, teman-temanku akan langsung mengerjakannya dengan cepat lantas mengumpulkan tugas mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat kesulitan. Ini tidak masuk akal!

Berkebalikan dengan mereka, aku sama sekali tidak kuasa untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Berkali-kali aku minta diajarkan kembali oleh teman-temanku yang sudah paham, namun tetap saja rasanya sulit bagiku untuk mengerti.

Yang paling kesal, kalau sudah ada salah satu temanku yang berkata, “Kamu itu bodoh banget sih! Begini saja tidak bisa. Nggak cocok kamu kuliah di UIN!”

Pokoknya, aku merasa diriku sangat bodoh. Aku tak bisa apa-apa. Aku imbesil.

Dan aku terus berharap bahwa suatu saat nanti, aku bisa menguasai materi-materi yang diajarkan kepadaku.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *