Hukum Adat (Sebab Akibat) dan Pengamatan Kita Terhadapnya

Hukum Adat (Sebab Akibat) dan Pengamatan Kita Terhadapnya

Oleh: Evan

Dalam naskah sifat dua puluh karangan Habib Usman Betawi diterangkan beberapa hal yang perlu diketahui dan diatur umat Islam sebagai bagian dari keimanan terhadap Allah. Diantaranya adalah hukum adat (kebiasaan). Dalam kitab tersebut menyebutkan bahwa

Hukum adi (adat) yaitu menentukan suatu barang bagi suatu barang atau menafikan suatu barang pada suatu barang dengan lentaran berulang-ulang serta salah-bersalahan dan juga dengan tiada anggota bekas salah suatu itu pada yang lain.

Dari definisi di atas, kiranya penulis ingin menjelaskan bahwa ada suatu hukum ketetapan yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang terjadi. Dalam kitab sifat dua puluh itu juga ditambahkan penjelasan tentang pembagian dari hukum-hukum tersebut. Dengan mendasarkannya pada hubungan, eksistensi suatu benda dengan benda yang lain.

Saya pikir, bahwa hukum adat dalam kitab tersebut mengandaikan adanya suatu hukum sebab-akibat yang bersifat universal. Sekalipun jika hukum itu tidak selamanya bersifat pasti. Di sini pun lahirlah sebuah pertanyaan. Hukum adat bersifat universal tetapi juga membenarkan jika hal yang berbeda terjadi. Bukankah ini menimbulkan kontradiksi. Di sini aspek asas kepastian hukum dipertanyakan.

Hukum adat yang dimaksud di sini mungkin saja bisa kita sejajarkan dengan hukum alam. Saya contohkan seperti teori hukum gravitasi newton. Dalam teori itu gaya bahwa sebagai sebuah informasi. Benda di alam semesta saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan hasil dari massa dan berbanding terbalik dengan jarak antara mereka. Dari sini memang berkesan sederhana. Pulpen yang massanya lebih berat dari udara akan jatuh ke bumi. Sedangkan balon yang berisi gas tertentu yang massanya lebih berat dari udara akan melayang menjauhi bumi. Kita menghitung jatuhnya pulpen tersebut tentu saja dengan perangkat yang dirumuskan oleh Newton. Dalam arti ini, itu semua niscaya. Niscaya di sini kita artikan tidak bisa. Kita menerima hal tersebut sebagai konteks yang lazim dalam alam semesta.

Tetapi, teori-teori hanyalah sebuah teori. Ia juga terbentur dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Kepercayaan bahwa kepercayaan bahwa mimpi universal sebenarnya hanyalah sebuah doktrin yang yakin bahwa saja. Teori-teori tidak berlaku universal. Tidak ada yang mengukur gravitasi untuk setiap atom dan setiap bintang.

Misalnya Bulan Bumi. Jika teori benar. Itu akan menunjukkan gaya gravitasi jika Matahari ke Bulan jauh lebih kuat gaya gravitasi Bumi ke Bulan, sehingga Bulan akan mengambil Matahari. Bukan Bumi. Hal ini diucapkan penentang teori teori, Ellery Schemp, senior Fisikawan asal Amerika Serikat.

Lebih lanjut, ada Profesor Andrea Ghez dari University of California yang percaya teori dari Einstein tentang relativitas umum, justru lebih menunjukkan bukti baru yang disuguhkan oleh Isaac Newton. Penelitian sebuah bintang yang disebut ‘S-02’, yang pernah dipublikasikan dengan judul Relativistic redshift of the star S-02 yang mengorbit lubang hitam suppermassive pusat galaksi. Berdasarkan pengamatan mereka bahwa Bintang tersebut yang paling dekat dengan lubang hitam bernama Sagitarius A. Dan lubang hitam ini tidak sesuai dengan hukum Newton.

Dari data ilmiah yang berbasis empiris tersebut kita mengerti bahwa suatu teori yang dibuat oleh manusia sebagai sebuah proses pemahaman alam semesta berarti kita sebagai manusia telah memahaminya. Akhirnya pada pemahaman hakikatnya adalah belajar memahami. Lantas apa itu dengan tema diskusi kita yang coba menelaah Hukum adat bagi Tuhan. Saya tidak memberikan kesimpulan. Saya hanya mencoba bertanya. Apakah cara alam bekerja, Hukum adat yang mencakup hukum alam terkait fisika, kosmologi dan astronomi telah benar-benar kita pahami?

Share this post

Tinggalkan Balasan