Niat Menuntut Ilmu, Jalan Pintas Mendapat Gelar Syahid

Kita sebagai muslim baik itu karena turunan ataupun karena muallaf, tentu sudah banyak dicekoki ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu. Ada banyak redaksi yang mewajibkan agar muslimin menuntut ilmu hingga akhir hayat. Sebut saja misalnya dari pepatah Arab yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu dari buayan hingga ke liang layat atau bahkan jika mau menyebut dari sang Nabi, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, atau dengan redaksi tuntutlah ilmu walau hingga ke negeri nun jauh yang bernama China.

Narasi-narasi demikian tentu sudah tidak asing lagi bagi kita namun yang perlu kita soroti sebenarnya bagaimana agar status menuntut ilmu itu bisa kita pegang hingga nafas terakhir sehingga ketika nanti kita sudah berada di alam kekal (akhirat) kita mendapat derajat tinggi karena telah mencapai prestasi syahid.

Dari redaksi baik pepatah Arab maupun dari sang Nabi hanya menampilkan narasi yang global. Hal ini tentu perlu adanya data pemahaman tambahan agar substansi narasi tersebut dapat terpenuhi.
Mengutip dari perkataan Abah Guru Sekumpul, ulama besar asal Kalimantan Selatan yang ditulis oleh jamaah Guru Sekumpul di laman Facebook, bahwa di antara amalan yang menyebabkan kita lepas dari siksa kubur, tidak ditanya malaikat dan bahkan mendapat bonus masuk surga tanpa hisab adalah mati dalam keadaan menuntut ilmu. Adapun orang yang mati dalam menuntut berstatus syahid.

Karena kita hidup di dunia yang penuh dengan kesenangan dan hiruk-pikuk suasana yang kadang tak masuk akal, tentu kita tidak bisa di setiap detik terus belajar, belajar, dan belajar.

Redaksi-redaksi agar menyuruh kita untuk menuntut ilmu hingga ke liang lahat bukan berarti kita terus belajar, kuliah, kuliah, kuliah sampai bergelar sarjana, menjadi ilmuwan, lalu punya nama yang panjang hingga memenuhi satu lembar kertas HVS F4. Kalau terus menerus belajar gitu tentu tidak ada waktu buat makan, mandi, guyonan, tidur, kencan, dan aktivitas-aktivitas manusiawi lainnya.

Lalu apakah redaksi menuntut ilmu hingga ke liang lahat mengandung makna tidak memanusiakan manusia? Oh tidak begitu kesimpulan pemahamannya. Justru agar pemahaman “menuntut ilmu hingga ke liang lahat” itu bisa tercapai kita memerlukan redaksi lain saudara-saudara, yakni dengan bantuan al-Hadist mengenai niat.

Cuma niat ternyata satu-satunya solusi agar status “menuntut ilmu hingga ke liang lahat” itu bisa kita dapatkan. Nabi mengatakan bahwa setiap perbuatan itu berawal dengan niat. Oleh karenanya kita cuma sematkan dalam hati agar kita menuntut ilmu hingga mati. Udah gitu doang. Mudah, murah, dan tidak ribet, bukan? cuma butuh niat. Makanya ketika anda ingin membuktikan apakah benar ajaran Islam itu mudah dan memanusiakan manusia ya renungi saja konsep niat ini.

Tetapi niat di sini harus dibarengi dengan kesungguhan. Orang yang memang berniat sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu hingga akhir hayat pasti tercermin dalam perilaku kehidupannya. Hal ini memang tidak bisa ditawar, kesungguhan itu harga mutlak!

Coba kita ambil contoh pada ulama Banjar yang ahli dalam Ilmu Falak dan Faraidh bernama al-Alim al-Allamah Salman Jalil al-Banjari. Ketika beliau sudah berusia senja dan sedang sakit yang menyebabkan badannya bengkak-bengkak, beliau tetap hadir dalam majelis ilmu bahkan di majelis bekas murid beliau sendiri ketika masih mengajar sekolah tsanawiyah di Ponpes Darussalam Martapura, yakni Abah Guru Sekumpul.

Begitulah ketawadhu’an dan himmah beliau dalam menuntut ilmu. Karena beliau memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu dari buaian hingga ke liat lahat, apapun dan siapapun yang menyampaikan ilmu.

Semoga tulisan sederhana ini bisa memantik kita agar terus memiliki gairah untuk menuntut ilmu dan kita tetap diberi niat yang istiqomah untuk menuntut ilmu sampai nafas yang terakhir.

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.

4 thoughts on “Niat Menuntut Ilmu, Jalan Pintas Mendapat Gelar Syahid

  • October 18, 2019 at 9:40 AM
    Permalink

    Mari kita tumpuk segala niat dg niat menuntut ilmu.

    Niat mencintaimu, ku niati pula menuntut ilmu.🍃

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *