AKU TAK TAHU

Jika dunia yang ada sekarang adalah surga, pasti tak akan ada manusia terlantar sepertiku. Koran di tanganku ini masih berjumlah sama seperti tadi pagi. Hari sudah menjelang pertengahan, tapi aku tak beruntung, banyak orang yang lebih memilih membaca berita dari kotak kecil yang disebut ponsel daripada dari koran dengan lembaran besar dan dianggap tidak praktis lagi.

Kaki kecilku yang berkulit gelap tanpa alas pelindung kembali menginjak aspal jalanan yang panas. Sebentar lagi lampu berubah menjadi merah. Itu adalah jam kerjaku. Kata banyak orang yang ku temui, di usia seperti ini, aku harusnya sekolah. Aku mau. Tapi dengan apa ku bersekolah? Siapa juga yang akan menjamin kehidupan adikku yang masih belum bisa berjalan?

Saking bodohnya, aku bahkan tak bisa menyalahkan takdir yang telah memaksaku seperti ini. Apa itu takdir saja tak ku tahu persis, kata itu hanya sering muncul di TV yang pernah tak sengaja ku tonton. Ku kira takdir adalah sesuatu yang memang akan terjadi. Jangan tanya juga tentang Tuhan kepadaku, bolehkah aku berkata bahwa Tuhan sendiri yang tak mau ku kenal? Jika Tuhan ingin aku mengenalnya, dia bisa kirimkan malaikat seperti di buku dongeng yang pernah dibacakan di sekolah kolong jembatan beberapa minggu lalu.

Lampu merah menyala. Ku ayunkan kakiku menyambut mobil yang behenti melaju satu persatu. Ku tawarkan apa yang ku bawa ke satu persatu orang. Sampai tiba di mobil mewah berwarna putih yang membuka kaca mobilnya kala melihatku mendekat. Ada seorang wanita dengan tampilan nyentrik sedang duduk di kursi penumpang yang melemparkan senyumannya padaku dan memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Rambut wanita itu kuning kecoklatan, suatu saat aku tahu, jika warna itu disebut pirang. Dia mengucapkan kata-kata asing yang terdengar seperti igauan adikku kala tidur. Sopirnya menjawab dengan bahasa yang sama. Yah, aku tidak terlalu bodoh, itulah yang disebut dengan bahasa bule.

Teman-temanku sering membicarakan bule yang kadang gambarnya ada di salah satu halaman koran. Deskripsinya hampir sama dengan wanita di depanku, rambutnya kuning.
Melihatku yang hanya mematung, pertanda betapa tak mengertinya aku pada apa yang mereka bicarakan. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan lembaran uang berwarna merah. Uang seratus ribu, aku tak ada kembalian untuk uang itu jika ia hanya membeli satu atau bahkan sepuluh koran yang sedang ku pegang. Kepalaku menggeleng, berharap ia paham bahasa tubuhku. Reaksiku membuatnya mengucapkan kalimat singkat tapi tetap terdengar seperti dengkuran di telingaku.

Merasa transaksiku tak akan berhasil dengan wanita ini, aku hendak pergi, namun wanita itu justru turun dari mobilnya dan memaksaku menerima uang merah itu. Dia tersenyum sangat ramah padaku. Tangannya menggantung di depanku, kupikir dia mengajak salaman. Ku raih tangan yang seputih kertas itu sedikit ragu. Wanita itu menggenggam lembut tanganku saat kulit kami bersentuhan.
Setelah tangan kami terlepas, dia mengutak atik ponselnya, lalu berkata dengan logat anehnya, “Namaku Lauren, besok ku temui kamu lagi disini, kamu mau?”

Meski terdengar aneh, aku paham kalimatnya. Dengan segera aku mengangguk mantap. Dia sangat baik padaku. Besok aku kan datang lagi ke sini.

Sebagai salam perpisahan, dia mengatakan bahwa aku cantik. Dia orang pertama yang mengatakan hal itu. Tidak aneh, siapa yang mau memuji seorang remaja dekil sepertiku?
Setelah kalimat itu, dia kembali ke mobilnya dan harus segera pergi karena lampu sudah berwarna kuning.

Aku melihat uang di tanganku. Lumayan untuk makan enak hari ini. kusimpan di saku yang paling aman agar tak hilang.

Keesokan harinya, aku melihat bule bernama Lauren yang kemarin ku temui sudah terduduk di halte dekat dengan lampu merah kemarin. Ku susul wanita itu dengan sangat antusias. Dia benar-benar datang untuk menemuiku lagi. Kapan-kapan akan kuceritakan pada teman-temanku yang lain. Aku punya teman berambut kuning sekarang.

Dia menyapaku dengan senyuman selebar kemarin, lalu mengajakku masuk ke mobilnya. Entah ada angin apa, aku menurut saja padanya. Asal kalian tahu, itu adalah kali pertamanya aku naik mobil. Dia menangkap reaksi antusiasku kala berada di dalam mobil yang sedang melaju.

Sejak hari itu, aku setiap hari di jemput di jam dan tempat yang sama. Supirnya yang selalu menerjemahkan percakapan kami. Dia memberiku pekerjaan sampingan yang penghasilannya bahkan puluhan kali lipat dari meloper koran. Katanya pekerjaan itu bernama kurir. Sangat keren di telingaku.

Pekerjaan itu ku lakukan kira-kira 3 hari dalam seminnggu. Lauren berkata, walaupun hasil dariku bekerja padanya sudah lebih dari cukup, aku harus tetap meloper koran. Itulah yang dilakukan orang dewasa jika punya dua pekerjaan katanya.

Aku percaya padanya, sangat. Dia banyak membantuku untuk pulang dengan senyum merekah. Ku kira bahkan aku bisa ikut ke sekolah suatu hari nanti. Celengan dari kaleng bekas yang ku letakkan di sisi dipan sudah kenyang dengan uang berwarna merah beberapa minggu ini.

Rasa percaya diriku dengan jumlah yang ada di dalam kaleng lusuh ini membuncah. Ku tenteng dengan antusias, aku ingin menunjukkannya pada ibuku yang sedang memilah botol bekas di depan rumah. Ini adalah langkah teringan selama hidupku. Nasib kami akan menjadi lebih baik. Dan itu berkatku, berkat Lauren.

Namun sayup-sayup ku dengar ibuku menangis sambil memaki-maki seseorang. Bukan, itu bukan perangai ibuku. Ibuku terlalu lemah lembut untuk melakukannya. Seketika aku berlari ke arah pintu, mencari tahu. Benar saja, ibuku sedang bersimpuh, menangis sesenggukan. Kedua tangannya yang berwarna coklat menarik-narik kemeja seorang dengan badan tegap bertopi, dia orang asing. Dan tidak hanya satu, ada beberapa orang dengan perawakan sama di belakangnya.

Melihatku berlari menuju ibuku, tangan kokohnya langsung menghadang dan mencengkeram tubuh kecilku. Aku ingin memeluk ibuku, sungguh. Dia terlihat sangat hancur.

“Nak, kamu harus ikut kami,” suaranya juga gagah.

Mataku beralih menatap orang asing itu. Mencari penjelasan, untuk apa aku harus pergi? Namun, kalimatku tak mampu keluar dari tenggorokanku melihat ibuku tersungkur tak berdaya. Ku pikir kehidupan kami akan segera menjadi layak, tapi mengapa malah ibuku seperti itu? Apa yang membuat matanya basah?

“Ikutlah, akan kami jelaskan nanti. Ibumu akan baik-baik saja.”

Aku menolak sekuat tenaga ketika salah satu orang di belakang laki-laki kokoh ini meraih dan menggendongku ke dalam mobil. Aku harus memeluk ibuku yang sedang rapuh, aku harus membersihkan air matanya. Intinya, aku tak mau pergi dengan orang-orang asing ini.

Semua terjadi begitu saja.

Sekarang, aku duduk di kursi dengan seorang hakim di depanku. Otakku memutar semua apa yang pernah ku lakukan belakangan ini. Aku tak tahu menahu apapun yang dikatakan manusia dengan jubah-jubah sangar itu. Mereka selalu saja menanyakan banyak hal padaku tanpa mau ku tanyai.

Mereka sering menanyakan darimana narkoba-narkoba itu sesungguhnya. Jujur, narkoba itu siapa? Atau mungkin apa? Tak ada yag mau menjelaskan padaku apa yang sebenarnya sedang mereka cari dariku. Tiba-tiba aku diseret ke tempat sempit dan diinterogasi.

Kebingunganku atas semua kalimat yang keluar dari kanan kiri dan depanku membuatku tak mampu lagi membuka mataku. Jujur, ini gila. Katanya aku mengedarkan narkoba. Bagaimana bisa? Wujudnya pun aku tak pernah tau.

Tak ada yang mau mendengarkan penjelasanku tentang Lauren yang hanya memintaku mengantar paket ke sebuah hotel malam itu. Katanya paket itu berisi buku yang dipesan temannya dari luar negeri. Aku seakan-akan manusia yang tak pantas didengarkan pendapatnya.

Aku juga kecewa pada Lauren yang tak pernah mengunjungiku, apakah dia mulai memusuhiku karena aku tak datang untuk mengantar paket lagi, malah menuruti perintah orang-orang sangar di depanku?

~CUKUP~

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.