Preparing for become a future parent

Oleh: Rohadatul ‘Aisy Idra

kemaren, untuk pertama kalinya saya dapat undangan pernikahan dari teman sendiri. Hal ini sedikit menarik bagi saya dan teman-teman seangkatan. Mau tak mau, surat undangan yang datang membuat kami sadar bahwa usia kami tak lagi muda. Seiring berjalannya waktu, pola obrolan di grup juga mulai berubah.

Menikah adalah fase kehidupan yang baru, setiap wanita punya mimpi pernikahan masing-masing punya tujuan usia masing-masing dan rencana-rencana futuristik lainnya. Bagiku, aku selamat semuanya, ada yang menikah setamat SD, dibangku SMP atau SMA, ada yang ditengah-tengah perkuliahan, ada yang setelah S1, S2, S3, bervariasi sekali.

Tapi di Lingkungan yang budaya patriarkinya masih kental, wanita di masyarakat acap kali mengkotak-kotakkan wanita ke berbagai standar yang tidak bisa kita dengar.

Dari stigma “Menikah muda untuk menghindari zina” sampai “Wanita tua yang belum menikah adalah aib keluarga” dan lain sebagainya. Tapi, poin yang ingin saya ingin utarakan bukan itu, karena terlepas dari semua rumor-rumor yg ada, sejatinya urusan jodoh ada ditangan tuhan.

Saya tak berhak menentukan kapan pun harusnya wanita menikah. Saya juga bukan ahli dan spesialis di bidang pernikahan dan rumah tangga, baik dari awal ilmiah, kacamata fiqh, mulai lagi saya tak punya pengalaman, saya jauh sekali dari kata ‘paham’. Saya hanya perempuan belia yang mencoba menuangkan dalam bentuk tulisan serba tanggung. Kasarannya, ini adalah curhat ala remaja belaka.

Jika pernikahan adalah perjalanan panjang, maka masa-masa sebelum pernikahan adalah waktu perjalanan bekal. Bekal bisa berbentuk materi atau non materi, termasuk kebiasaan. Anak perempuan yang dari akil baligh sudah melakukan kebiasaan baik akan melakukan kebiasaan tsb sampai akhir, dan juga sebaliknya. Kebiasaan itu seperti investasi, banyak hal baik yang kita tanam, banyak juga yang kita bayar.

Pada awalnya, saya abai dengan fakta ini. Namun setelah menginjak umur 20an, kebiasaan buruk yg dilakukan sedari kecil, cepat-laun mulai berdampak. Entah itu dari hal kecil seperti suka menghabiskan-nunda pekerjaan sampai hal besar seperti suka lari dari yang mencari solusi kerumitan.

Tidak hanya dari kebiasaan, informasi yang kami peroleh akan sangat memuaskan pada kepercayaan dan tingkah laku kita. Jika otak adalah gelas, maka informasi adalah isinya. Jika baik informasinya, maka yang meminumnya juga akan terpapar hal baik, berlaku juga sebaliknya. Maka sebagai pemilik gelas, kita memilah apa yang ingin kita minum

Sedari SD, menghilangkan hobi membaca dan olahraga, saya sangat suka anime dan manga. Mulai dari yang umum seperti Dragon Ball, One Piece, Doraemon, Detective Conan hingga anime yang hanya bisa diperoleh di halaman situs web tertentu. Beranjak sekolah menengah, saya suka mendengar lagu bahasa asing, dan film mancanegara, zaman tidak mengenal seluk-beluk internet selain youtube dan facebook, saya juga belajar alat musik dan menemukan kesenangan di sana.

Masuk ke dunia perkuliahan, saya suka berbagai genre musik, terutama K-Pop. Seperti penggemar pada umumnya saya masuk ke dalam fandom. Sayangnya, saya tenggelam ke lubang fanatisme terlalu dalam. Di sini, internet seperti pisau bermata dua karena aku tak bisa mengendalikannya. Saya kemudian sadar sudah berjalan terlalu jauh. Dan setelah melewati dilema panjang, saya memutuskan berhenti.

Dan akhirnya, semua informasi yang saya dapatkan sedari kecil membuat saya yang sekarang, entah itu kebiasan yang baik saya ajarkan, atau kebiasaan buruk yang diam-diam saya lakukan tanpa sepengetahuan orang-orang yang mengunjungi saya.

Lebih baik daripada serentetan yang baik dari hal-hal yang disukai, namun seperti kata pepatah ‘nila setitik, rusak susu sebelanga’ benar-benar ada. Pelan namun pasti, kebiasaan buruk yang kontinu mengikis kebiasaan baik yang ada.

Lalu apa yang mendukungnya dengan menjadi transisi? Apa yang dimaksud dengan remaja perempuan?

Ternyata, anak-anak baik ditentukan oleh siapa pun. Lihat siapa dalang dibalik kehebatan Imam Syafi’i atau Iman Bukhari? Ibunya. Anak-anak yang baik hanya bisa menantang oleh ibu-ibu yang mendidik dengan baik, dan ibu-ibu yang baik selalu punya kebiasaan dan prinsip kehidupan yang baik. Jika ibu baik, maka anak baik. Jika anak baik, maka bangsa juga baik. Karena itu, ucapan ‘Wanita adalah Pembangun Bangsa’ disambut gembira isapan jempol belaka.

Maka untuk saudariku seperjuangan, apakah itu sudah menikah atau sudah memiliki momongan, menjadi perempuan yang ‘baik’ sebenarnya adalah untuk mendapatkan (tanpa menafikkan laki-laki juga harus menjadi pribadi yang baik).

Daripada disebut ajakan dan seruan ke publik, tulisan ini sebenarnya adalah bentuk refleksi penulis yang kurang sana-sini, tulisan ini juga merupakan hasil kontemplasi malam hari yang menunjukkan bagaimana buruknya saya saat ini adalah akibat buruknya masa lalu. Kebiasaan buruk yang saya lakukan harus dilakukan dengan pelajaran khusus, kalian juga bisa mencari informasi lebih lanjut tentang kenyataan positif atau negatif dari kebiasaan saya.

Maka, hal yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah berhenti ‘menginvestasikan’ kebiasaan buruk dan menyicil melakukan kebaikan. Sulit memang, jika mudah tentu sudah semua orang melakukannya. Sambil memandang jauh kedepan, aku sadar aku bisa bergerak sendiri, visi besar untuk membangun bangsa dan agama dibangun dilakukan sendiri. Terlebih lagi, yang pertama kali merasakan kehidupan yang baik adalah diri kita sendiri. Lagi pula, lakukan baik tidak hanya pada masa depan tapi juga untuk bekal akhirat.

Semangat perubahan!

Salam Literasi
Rohadatul ‘Aisy Idra
CSSMoRA 2017 UIN Walisongo Semarang
Alumni Angkatan 20 PP Diniyyah Pasia, Agam

Buat teman-teman yang sering membaca tulisan saya, kali ini saya bertanya Ranah ini, aneh sekali bukan? Tulisan ini terinspirasi dari diskusi hari sakit bersama @syarifailhami dan dipantik oleh snap @atiqulhaq yang saya lihat pagi ini [9/9].

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.