CSS (Cinta Sampai Skripsi)

Hari ini, adalah hari terakhir hubunganku dengan Iqbal , hubungan yang sudah berjalan kurang lebih 4 setengah tahun itu lenyap dalam sekejap waktu. Tak dapat dihindarkan memang, cinta saling mengikatkan dua hati dan bisa jadi indah apabila cinta tersebut tumbuh di tempat yang tepat, dan itu sudah lumrah bagi perasaan setiap orang. Namun, kalau cinta yang sudah tidak bisa mekar lagi kamu bisa berbuat apa? Layaknya nasi yang sudah berubah wujudnya menjadi bubur, tidak bisa di apa-apakan lagi. Kecuali, hanya bisa ditambahi bumbu penyedap rasa supaya nanti enak dinikmati.

“Aku sudah tidak mau bertemu kamu lagi. Aku mau, mulai saat ini kita tidak ada hubungan lagi!”

“Bang, apa kamu yakin dengan keputusan kamu?” tanyaku yang tidak menyakini dengan keputusan Iqbal.

Dan perdebatan antara aku dan Bang Iqbal sore itu diakhiri dengan menguningnya cahaya matahari di ufuk barat. Tidak ada makan bersama. Padahal sebelumnya saat hubungan kami sedang baik, kami berdua sering sekali makan nasi ayam bersama di rumah makan Padang sebelum kembali ke kos masing-masing.

Amel yang sangat mencintai Iqbal, malam itu, tampak tidak ceria lagi dan menyimpan segudang kekecewaan. Semasa bersama dulu Iqbal berjanji ingin sehidup semati, kemanapun selalu bersama dalam suka maupun luka, dan terkadang membuat iri teman-temannya yang lain. Kini semua sudah terjadi.

“Tapi, bagaimanapun juga aku harus bisa move on dari dia,” pikir Amel dalam hati. “Aku harus segera menyesaikan skripsiku”.

Memang sebentar lagi Amel akan segera menyelesaikan studinya di kampus ternama di Indonesia, mendapatkan beasiswa tidak serta merta membuat orang yang mendapatkannya menjadi bahagia namun sebaliknya, setelah lulus nanti dia memiliki kewajiban untuk mengabdikan dirinya selama tiga tahun di sebuah pondok pesantren di Jawa Barat.

“Lho kenapa sih Mel? Kok, jadi kurang bersemangat gitu”, tanya mbak Siti sebagai teman kos.

“Aku sudah pisah sama Iqbal mbak, kami sudah tidak bersama lagi”.

“Haaaa, kumaha eta bisa lumangsung?, bukannya kalian sudah pacaran sudah sekian lama kok tiba-tiba kalian bubar?” dengan nada tinggi, seakan mbak Siti tidak percaya dengan penjelasan Amel.

“Aku tidak mengetahuinya kenapa dia mau menyudahi hubungan ini, padahal orang tua ku sudah menerimanya, dan bahkan kami berencana setelah lulus kuliah nanti kami akan menikah mbak,”

“Jangan bersedih Mel, Mbak yakin kamu bisa melewati semua cobaan ini. Dan kalo butuh sesuatu jangan sungkan minta sama Mbak yaaa.”

“Iyaa, Mbak Siti.”

Setelah beberapa minggu kemudian, Amel mendapatkan kabar perihal mantan kekasihnya yang dulu pernah dia cintai, tak ada yang menduga bahwa apa yang terjadi sebenarnya. Di gerbang kampus hijau rakyat terlihat dari kejauhan sosok lelaki yang tinggi dengan postur badan yang agak sedikit cungkring menghampirinya.

“Bagaimana kabarmu selama ini?” tanya Iqbal

“Aku baik kok,” jawab Amel

“Amel, Abang mau terus terang sama kamu, Abang akan menjelaskan semuanya perihal masalah kita berdua, karena Abang tidak mau kita menjadi musuhan, kita adalah teman. Sebenarnya Abang dipaksa oleh Ibu untuk menikahi seorang wanita dari keturunan orang berada, sebenarnya Abang sangat mencintai kamu Mel, tapi Abang bingung antara memilih kamu atau menuruti permintaan orang tua. Ini permintaan Ibu untuk terakhir kalinya, sebab Ibu sudah tua dan sering sakit-sakitan, maafkan Abang Mel, Abang harus memilih untuk mengikuti permintaan orang tua.”

“Iyaa, Amel memahami itu semua Bang, tak usah lah bersedih melihat Amel lagi, Amel sudah melupakan semua tentang kita. Sekarang Amel juga sedang mempersiapkan persyaratan dan juga dokumen-dokumen penting untuk keperluan skripsi, sudah saatnya Amel pergi dari kehidupan Bang Iqbal.”

“Maafkan Abang, mel.”

“Iyaa, tidak apa-apa.”

Sejak pertemuan terakhir hari itu, mereka tidak pernah lagi saling berkomunikasi, seakan semua kenangan yang pernah mereka ukir selama kurang lebih 4 setengah tahun hilang ditelan oleh waktu. Tak ada yang menduga hubungan mereka, padahal dari sekian banyak teman satu angkatan, hubungan mereka berdualah yang terkenal sangat dekat, dan terkadang membuat teman-teman yang lain iri. Bisa dikatakan mereka berdua telah menjadi pasangan suami-istri yang sah. Namun, ketika skripsi sudah selesai, hubungan cinta pun turut usai. (Day_15)

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply