CSS MoRA, Arsenal Pengetahuan Santri Nusantara

Oleh: Muhammad Shobaruddin[1]

Saya menulis artikel ini dengan perasaan yang sangat bahagia, dan saya bersyukur pernah menjadi bagian dari CSS MoRA. Organisasi yang menaungi para Mahasantri yang berasal dari seluruh penjuru negeri ini, tidak berlebihan bila disebut sebagai ‘Arsenal Pengetahuan’ yang berarti  gudang pengetahuan. Melalui PBSB dari Kementerian Agama RI, CSS MoRA sudah menjadi sebuah payung teduh bagi para santri -dengan latarbelakang keilmuan dan budaya yang berbeda- untuk bersatu padu dalam sebuah organisasi kemahasiswaan. Inilah salah satu hal yang paling menarik, CSS MoRA hadir layaknya cerminan bangsa Indonesia yang multikultural.

Sejak CSS MoRA ini dicetuskan pada tahun 2007, sangat besar harapan publik akan kehadiran organisasi ini. Melalui CSS MoRA, pemerintah memproyeksikan agar organisasi ini mampu menjadi lokomotif kemajuan bangsa, pada saat negeri ini berada dalam bonus demografi di tahun 2045. Saat ini CSS MoRA genap berusia sepuluh tahun. Satu dekade merupakan usia yang cukup matang, meskipun belum bisa dikatakan dewasa. Akan tetapi, CSS MoRA sudah mulai menunjukkan perannya sebagai mesin pencetak generasi muda yang solutif terhadap persoalan-persoalan di masyarakat.

Salah satu wujud nyatanya ialah sebagaimana yang terus diikhtiarkan oleh para anggota CSS MoRA UIN Walisongo Semarang. Melalui kajian ilmu falak yang intens dan komprehensif, para pionir ilmu falak muda ini terus membumikan ilmu falak kepada masyarakat melalui seminar, pelatihan, dan penyuluhan terhadap masyarakat, khususnya pesantren. Hal ini sangat penting, mengingat berbagai persoalan bahkan pertikaian sering terjadi di masyarakat terutama saat penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Kehadiran mahasantri Ilmu Falak, diharapkan mampu menjadi penyejuk pertikaian di masyarakat yang berkaitan dengan penetapan awal bulan hijriyah.

Meskipun demikian, CSS MoRA merupakan organisasi yang menanamkan nilai-nilai progresifitas dan feksibilitas terhadap anggotanya. Olehkarena itu, pengembangan ilmu dan keterbukaan terhadap kebaikan-kebaikan baru terus diwacanakan dan diimplementasikan. Hal inilah yang membuat anggota CSS MoRA khususnya di UIN Walisongo Semarang memiliki keberagaman dalam kajian keilmuan yang ia geluti. Selaras dengan konsep ‘Unity of Science’, banyak anggota yang telah usai menyelesaikan studi, melebarkan sayap akademik mereka dengan memadupadankan kajian keilmuan mereka dengan keilmuan lainnya. Tentu saja ini merupakan aset yang besar bagi CSS MoRA.

Saat ini, mungkin adalah masa pemenuhan amunisi akademik. Namun, sangat besar kemungkinan, 20 tahun yang akan datang organisasi ini akan menjelma menjadi sebuah Arsenal Pengetahuan yang mampu mempertegas kontribusi santri dan pesantren dalam pembangunan bangsa Indonesia. Sebab, CSS MoRA hadir di 14 universitas ternama di Indonesia dengan kajian keilmuan yang beragam. Serta merajut para santri yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional yang seimbang.

Salam loyalitas tanpa batas!!!

 

Bangkok, 8.58 a.m., 7 December 2017

[1] Ketua CSS MoRA UIN Walisongo 2012-2013, Mahasiswa Master of Art in Asia Pacific Studies, College of Interdisciplinary Studies, Thammasat University, Thailand

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *