Kereta Senja

Sumber Gambar

Oleh: Triyatno

“Apalah artinya hidup ini. Ketika kita tidak bdrmanfaat untuk orang lain. Ibaratkan hidup kita ini hanyalah pelengkap belaka. Tidak ada pun, tidak ada yang merugi”

Matahari sudah semakin jauh di ufuk barat. Kereta yang aku naiki baru saja berhenti. Segera kulangkahkan kaki ku keluar dari kereta yang sudah mulai usang di makan usia ini. Ini adalah yang ke sekian kalinya aku menggunakan kereta ini untuk perjalanan yang sama , yaitu pulang ke rumah. Yahh, setidaknya semenjak aku dipondokkan di luar kota tujuh tahun yang lalu. Tapi, perjalanan kali ini terasa berbeda, aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan memberitakan kabar gembira yang aku bawa dari pesantren.

“Ibu pasti senang mendengarnya” pikirku, anganku menerawang jauh ke rumah. Terbayang senyum ibu mengembang dari bibirnya.

Ku percepat langkahku meninggalkan stasiun  yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

“ Haruskah ku telfon ibuku ?” tanyaku dalam hati

“Ah sudahlah, aku akan pulang dan memberi kejutan untuk ibu, lagipula keadaanya sedang kurang sehat saat ku telfon kemarin”.

Sudah tiga tikungan kulewati sejak turun dari kereta, ku hentikan langkahku

“Ah aku ingat sesuatu !, tempat ini tidak banyak berubah dari tahun ke tahun , bahkan setelah delapan tahun lamanya” pikirku.

Aku jadi teringat kembali kenangan delapan tahun yang lalu di tempat ini bersama dua orang sahabatku, Nadia dan Alan waktu kami baru saja lulus SMP. Itulah terakhir kalinya aku melihat dengan jelas wajah Nadia, karena setelah itu, meskipun kami sering berkirim surat kami tidak pernah bertemu lagi, yahh karena dia di pondokkan di luar Jawa. Alan sendiri, setelah menyelesaikan kuliahnya mulai membantu bisnis ayahnya. Dan  kabar terakhir yang kudengar dia akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Kabar terakhir itu membuatku senang ,meskipun aku masih penasaran siapa sebenarnya calon istrinya yang katanya akan membuatku terkejut.

Kulangkahkan lagi kaki ku menuju tikungan terakhir yang harus kulewati, senyum mengembang di bibirku. Ah, rasanya masakan ibu sudah melambai-lambai, menarikku agar cepat sampai rumah.Begitu sampai, langsung ku buka pintu rumah tanpa mengetuk pintu bahkan tanpa salam terlebih dahulu.

” Ooh ini undangan pernikahan dari sahabatku Alan,”gumamku ketika melihat sebuah kertas di meja ruang tamu.

”Lohh Hasyim ?sudah pulang? Kenapa tidak bilang? Kan kalo bilang ibu bisa suruh pamanmu untuk jemput” kata ibu dengan suara khasnya.

” Ah ibu, tidak usah repot-repot begitu, lagipula aku hanya ingin memberi kejutan untuk ibu” jawabku sambil mencium tangannya yang mulai berkeriput.

“Ooh ya Bu..!aku ada kabar baik dari pesantren” kata ku membuka percakapan setelah beberapa saat melepas rindu.

” Kabar apa Nak..?” tanya ibu penasaran

” Setelah  wisuda, aku akan langsung bekerja sebagai guru di MA di pondokku” jawabku sambil tersenyum puas.

“ Alhamdulillah, itu amanah untuk mu Nak.! Laksanakan dengan sebaik-baiknya.”perintah ibu

“ Ibu juga ada kabar gembira dari teman mu, Alan”Ini pasti kabar pernikahannya, pikirku.

” Kabar apa bu ?” tanya ku.

“ Alan , Rabu besok akan menikah” jawab ibu.

“ Sama siapa bu ?” tanya ku penasaran .

“ Sahabat mu juga, Nadia” jawab ibu sambil tersenyum.

Deg, jantungku serasa berhenti tiba-tiba mendengar kabar itu. Impian dan harapan ku hancur seketika. Rasa kecewaku bercampur rasa tidak percaya akan apa yang terjadi. Ibu yang melihat perubahan ekspresiku mulai keheranan.

“Kamu kenapa? Kok kelihatan nya tidak senang Alan menikah sama Nadia. ” tanya ibu penasaran.

“Ngga kok bu. Hasyim cuma capek aja. Ya udah Hasyim istirahat dulu ya bu ” jawabku lalu meninggalkan ibu di ruang keluarga.

“Bagaiamana mungkin aku bisa ikhlas, sesuatu yang aku inginkan hilang begitu saja. Tanpa jejak, hilang ! bagai debu yang tebawa angin ke negeri yang jauh”

***

“Takdir atau harapan. Mana yang harus aku ikuti ?Aaaaahhhhhhhh kenapa takdir kebanyakan berlawanan dengan harapan. Andai takdir selalu sejalan dengan harapan, pasti tidak ada yang namanya kecewa, tidak ada yang namanya sakit hati, tidak ada yang namanya TMT”

Suara nyaring kokok ayam membangunkan ku. Kulihat jam di atas meja menunjukkan pukul 04.00 . Segera ku ambil wudhu dan sholat subuh berjamaah bersama ibu ku. Setelah sholat subuh, aku yang tidak ada kegiatan mencoba menghibur diri dengan menulis. Memang sudah jadi kebiasaan ku di pondok, ketika tidak ada kegiatan maka aku mengisinya dengan menulis.

Ku ggoreskan tinta pena di buku batik warna coklat milikku. Salah satu hobi ku adalah membaca dan menulis cerpen, novel dan sejenisnya. Dan kali ini, aku ingin menulis sebuah novel . Ya, sebuah novel yang menceritakan tiga orang anak desa dan petualangan mereka memecahkan sebuah misteri yang meliputi desa mereka. Misteri kematian beberapa penduduk dan para pendatang. Berawal dengan kematian seorang anak kecil yang selanjutnya berubah menjadi teror.

Sampai adzan ‘ashar terdengar, aku sudah menyelesaikan beberapa lembar tulisan ku. Tapi tiba-tiba selera menulis ku hilang. Aku teringat kembali pada Nadia dan kenangan masa kecil ku. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan ke bukit dekat stasiun setelah sholat ‘ashar. Dengan berjalan kaki kususuri jalanan desa menuju bukit. Setiap langkah yang kulalui, selalu terbayang kenangan masa kecilku bersama Alan dan Nadia. Masa dimana kami bermain sepeda bersama, berlari-lari di sepenjang jalan di minggu pagi. Sampai akhirnya waktu memisahkan kami, Nadia pergi ke luar Jawa untuk melanjutkan pendidikannya, Alan pergi ke kota untuk mewujudkan keinginan ayahnya, sementara aku sendiri pergi kota terpencil untuk menuntut ilmu di pondok pesantren.

Begitu sampai bukit aku segera merebahkan tubuhku diatas rerumputan hijau.  Semenit kemudian terdengar suara kereta dari kejauhan. Kusandarkan tubuhku di pohon yang tumbuh di perbukitan. Ku nikmati pemandangan senja di stasiun ini.

“Hasyim ” sebuah suara mengagetkan ku. Ku tengok ke belakang, disana sudah berdiri seorang gadis cantik berjilbab yang sangat aku kenali.

” Nadia ” ucap ku lirih.

Air mataku tidak bisa terbendung lagi. Begitu juga dengan Nadia, air mata mengalir deras membasahi pipi nya.

” Kenapa Nadia? Kenapa? ” tanya ku.

” Maafkan aku Hasyim, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi, aku tidak bisa menolak permintaan ayahku agar aku segera menikah” jawab Nadia sambil menangis tersedu-sedu. Aku hanya diam tanpa berkata-kata kemudian Nadia melanjutkan perkataannya

” Seandainya kamu yang datang duluan melamar ku, pasti aku akan menikah dengan mu. Tapi ternyata Alan yang lebih dulu melamar ku dan ayahku tidak bisa menolaknya.”

” Sudahlah Nadia. Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Semua sudah jelas, kamu akan menikah dengannya. Itu saja “  Air mata Nadia semakin deras membanjiri pipi lesungnya. Lidahnya kelu, kata-kataku bagaikan belati yang menyayat kulitnya, dan menusuk tepat ulu hatinya. Tidak sanggup ia berkata-kata lagi.

“ Orang lemah tidak akan jadi pemenang. Kalau dia yang menang, itu karena dia lebih kuat. Itu saja. Lagipula tidaklah pantas orang sepertiku bersanding denganmu yang Orang punya dan ternama. “ ku hela nafas sebentar, kemudian melanjutkan kata-kata ku.

“Alan orang baik, orang punya dan juga beragama. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu” ku coba untuk memberi senyuman padanya. Namun, mukanya justru memerah dan sedetik kemudian kemarahannya meluap-luap.

“ Kamu pikir, aku akan bahagia hanya karena harta ? kamu pikir aku akan bahagia, hidup dengan orang yang tidak aku inginkan ? Kamu pikir, perasaanku akan berubah begitu saja terhadapmu ? “  Belum selesai ia berbicara, kata-katanya kupotong.

“Lalu aku bisa apa Nadia  ?” ucapku dengan nada sedikit membentak. “ Besok, kalian akan melangsungkan akad. Bagaimana mungkin, aku bisa mencegah itu semua. Apalagi Alan adalah sahabatku. “ Lanjutku.

“ Bawa aku pergi dari sini “ ucap Nadia mengagetkanku, kata-katanya keluar seolah ia sangat yakin dengan keputusannya. “ Kalau kamu memang masih mencintai-ku. Aku mau pergi kemanapun, asalkan bersamamu.”

“Nadia” ucapku lirih.

“ Kenapa Hasyim ? Kamu tidak mau ? Kamu sudah tidak mencintai ku lagi ?” serbu Nadia dengan beberapa pertanyaan. Untuk beberapa saat kami saling terdiam. Aku bingung dengan apa yang harus aku katakan. Begitupun Nadia, ia sepertinya sudah kehabisan kata-kata. Setelah Nadia mulai tenang aku mencoba untuk menasihatinya.

“ Nadia, kita boleh berharap. Tapi ingat, takdir tuhan tidak selalu sejalan dengan harapan kita. Dan kamu, jangan pernah menyalahkan takdir tuhan hanya karena tidak sesuai dengan harapan kita. Yang digariskannya pasti adalah yang terbaik untuk kita”

Nadia hanya diam. Ditekuknya kakinya untuk bersandar kepalanya. Matanya sembab, bengkak karena terlalu lama menangis. Raut mukanya menampakkan kalau dia sudah sedikit lebih tenang.

“Aku pulang dulu”Ucap Nadia dan berlalu kemudian. Aku hanya bisa memadangi kepergiannya. Air mataku mulai menetes lagi. Aku memang belum ikhlas dengan takdir yang menimpaku. Tapi apalah dayaku.

“Ikhlas. Terlihat sederhana, tapi tidak pada nyatanya. Bahkan untuk hal kecil sekalipun, ikhlas akan menjadi sangat rumit. “

***

“Menyakitkan, melihat orang yang kita sayangi bersanding dengan orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang kita inginkan bersanding dengan kita. Tapi ketika nasi sudah jadi bubur, bagaimana mungkin bisa kembali lagi menjadi nasi. Beginilah cinta! Deritanya tiada akhir”

Sesuai undangan, resepsi pernikahan di mulai jam 08.00 , aku hanya melihat mereka dari kejauhan. Terlalu sakit untuk melihat mereka dari dekat. Apalagi untuk ikut berpura-pura bahagia, sangat menyakitkan.bahkan, untuk sekedar mendengarnya pun sangat sakit. Respsi berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun. Alan sangat lancar mengucap Ijab qabul.

Begitu acara selesai aku bersalaman dengan Alan dan Nadia untuk mengucapkan selamat dan berpamitan pulang. Rasanya dadaku sudah penuh sesak dengan penderitaan. Mata ini sudah tidak bisa menahan air yang akan menjebolnya.

“Alan, Nadia. Aku mau pulang dulu “ ucapku.

“Lohhh kok cepet-cepet sihhh Syim? Kita kan baru ketemu ” tanya Alan keheranan.

” Iya Lan. Besok aku harus kembali ke pondok untuk mulai bekerja dan sekarang aku  harus siap-siap, nanti sore aku berangkat. Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi.Insya Allah” jawabku singkat.

“Kenapa harus terburu-buru seperti itu? kita kan jarang bertemu. Tinggallah disini barang sejenak.Biar ibumu yang menyiapkan keberangkatanmu.” Paksa Alan.

“ Nanti aku mengganggu kalian“ jawabku sambil tertawa kecil, walaupun sebenarnya hatiku bagai tersayat-sayat pisau.

“ Aihhh… Jangan seperti itu, kita kan sahabat dari kecil. “ rengek Alan lagi. Aku yang merasa tidak enak akhirnya mengiyakan permintaan Alan.

Kulewati sepanjang hari ini dengan menyaksikan kemesraan pengantin baru itu. Kulihat ekspresi Nadia yang sedikit dipaksakan. Semakin lama rasanya semakin panas saja hati ku menyaksikan kemesraan mereka. Akhirnya ku putuskan untuk pulang setelah terdengar azan ashar. Tawaran-tawaran dari Alan selalu ku tolak. Nadia hanya terdiam menyaksikan kepulanganku. Nampaknya dia masih belum mau berbicara lagi denganku.Ahhh… biarlah. Semua pasti akan berubah suatu saat nanti.

Setelah sholat ashar, aku pergi ke stasiun untuk melakukan perjalanan ke pondok. Sambil menunggu kereta yang belum datang, kusempatkan diri untuk melihat senja dari bukit. Senja yang selalu aku,Alan, dan Nadia tunggu bersama lewatnya kereta. Perasaan ini muncul lagi. Perasaan kecewa pada takdir tuhan yang tidak berpihak. Lima menit, kemudian kereta yang ku tunggu datang. Aku segera memasuki kereta dan mencari tempat duduk yang tertera di tiket. Sambil menunggu kereta berjalan ku sempatkan untuk melihat bukit tempat aku, Alan dan Nadia biasa bermain ketika kami masih kecil. Tempat bersejarah bagi persahabatan kami. Tempat yang menjadi saksi tragedi yang menimpa kami. Tempat yang tidak akan pernah kulupakan.

Tiba-tiba muncullah seorang perempuan yang sangat aku kenali. Dengan jilbab warna biru kesukaan nya. Ku lihat dia melambaikan tangannya, aku pun membalasnya dengan melambaikan tanganku. Kulihat air mata mengalir deras membasahi pipinya. Aku tau sangat berat rasanya melakukan hal yang tidak kita suka. Apalagi berhubungan dengan masalah asmara. Sejujurnya, aku pun belum ikhlas dengan apa yang terjadi pada kisah cinta ku. Tapi….Ah sudahlahhh..

Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun. Kulihat lagi Nadia, ia mencoba tersenyum walaupun air mata masih mengalir dari matanya. Aku terus memandanginya sampai akhirnya stasiun benar-benar hilang dari pandangan ku. Dan aku mulai terlelap, menatap mimpi ku yang baru. Mimpi yang akan membawa  ku ke dunia yang baru. Selamat Jalan Kenangan.

 

“Satu hal yang pasti adalah, takdir tuhanlah yang terbaik untuk kita. Walau bagaimana itu bertentangan dengan kehendak kita. Lantas, Nikmat tuhan mana lagi yang patut kita kufuri.TIDAK ADA. Ingat itu!!!!!!!”

 

“MAAFKAN AKU YA ALLAH, HANYA KARENA HAMBAMU HILANG AKU MENANGIS”

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply