Senthir Gubug Tua

Oleh: Triyatno


Sumber Gambar

“…tidak ada yang lebih membahagiakan hati orang yang sudah tua renta
Dan berpenyakitan sepertiku selain berkumpul dengan anak-anak di hari tua”

Hujan semakin deras mengguyur bumi. Suara kilat saut-menyaut berlomba-lomba menghancurkan kesunyian malam. Angin lebat mulai merobohkan beberapa pohon kecil dan menjatuhkan ranting-ranting pohon besar. Samar-samar terdengar suara adzan isya dari sebuah mushola kecil, namun tampaknya tak ada orang yang berniat menerobos derasnya hujan dan pergi ke mushola. Mereka lebih memilih diam di rumah menanti hujan reda.

Di ujung desa sebuah rumah yang tampak lain dari rumah di sekitarnya tampak bergoyang. Rumah gubug dari bambu itu seakan hendak terbang dibawa derasnya hujan disertai angin. Di dalamnya seorang ibu bersama anaknya baru saja menyelesaikan sholat berjamaah.

“ Kenapa ibu menangis ?” tanya sang anak kepada ibu nya

“ Nggak papa kok Nak, Ibu hanya merindukan kakakmu, Rendi” jawab ibunya sambil mengusap air mata

“ Sudahlah Bu, untuk apa ibu memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkan ibu”

“ Jangan bilang begitu Hen, bagaimanapun dia adalah kakakmu” ucap sang ibu

“ Kakak ? aku bahkan tidak pernah menganggapnya ada Bu. Dia meninggalkan kita disini, di gubug tua yang hampir roboh ini, dia jual semua tanah warisan ayah. Apa yang diberikannya Bu? Bahkan setelah dia sukses di kota dia sama sekali tidak pernah mengunjungi kita. Ahh jangankan mengunjungi untuk sekadar mengirim uangpun dia tak mau. Apalagi yang ibu harapkan dari anak durhaka seperti dia Bu “

Air mata mulai mengalir dari mata Hendra. Masih jelas dalam ingatannya ketika kakak satu-satunya itu menjual semua tanah warisan ayah mereka lalu meninggalkan ibu dan adiknya ke kota.

“ Cukup Hendra “ bentak Ibu “ kamu tidak tau apa yang ibu rasakan “ lanjut sang ibu

“ Tapi Bu…” belum sempat Hendra menyelesaikan kata-katanya Ibu langsung berbicara lagi “Ibu tidak mau tau. Besok ibu akan ke kota untuk mencari kakak mu. Terserah kamu mau ikut atau tetap disini” ucap ibu kemudian pergi ke kamar.

***

Malam semakin larut, tapi suasana perkotaan masih ramai dengan hiruk-pikuk kendaraan. Di sebuah jalan perumahan, Rendi bersama istrinya Reva sedang dalam perjalanan pulang.

“Ciiiitttttt” suara rem mobil sedan berwarna putih itu terdengar keras. Hampir saja ia menabrak seekor kucing yang tiba-tiba menyebrang.

“ Pelan-pelan dong Mas, kalau tadi nabrak gimana ?” ucap Reva

“ Iya, ini juga udah pelan kok. Kucingnya aja yang jalan ngga liat-liat” jawab Rendi.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah rumah mewah berwarna hijau. Di parkirkannya mobil kesayangannya itu di garasi yang lumayan lebar. Bahkan lebih lebar dari rumah ibu nya yang dulu ditinggalkannya. Sangat menyakitkan mengingat masa lalunya. Tinggal di rumah kecil, makan seadanya . Apalagi sejak sang ayah meninggal, kehidupan mereka semakin sengsara. Sampai akhirnya ia dengan tega menjual tanah warisan ayahnya dan pergi ke kota untuk mencoba merubah nasib. Dan sekarang setelah berhasil pun ia masih membenci kehidupan lamanya dan masa lalunya. Bahkan ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana nasib ibu dan adiknya.

“ Untung dulu aku jual tanah warisan ayah dan pergi ke kota. Sekarang aku sudah jadi orang kaya, tidak perlu tidur di lantai, tidak perlu makan tahu tempe. Biarkan saja mau bagaimana ibu sama Hendra, yang penting aku hidup dengan bahagia.” Gumam Rendi sambil tersenyum puas.

Melihat suaminya melamun di garasi Reva langsung memanggilnya “ Mas, ayo masuk. Udah malam lohhh”

“ Iya,” jawab Rendi kemudian mengikuti Reva masuk ke rumah.

Rendi dan Reva adalah pengantin baru. Seminggu yang lalu mereka melangsungkan pernikahan mereka dengan megah di salah satu hotel berbintang lima. Sampai saat ini Reva belum mengetahui asal-usul orang tua Rendi. Yang Reva tau, orang tua Rendi tinggal di desa yang jauh dari tempat tinggal mereka.

***

Malam sudah larut. Jam tua di dinding gubuk menunjukkan pukul 00.24 . Hendra masih sibuk dengan kertas-kertas lusuh yang sudah lama di simpannya. Kertas itu berisi tentang informasi tentang kakaknya, Rendi yang di dapatnya dari Alfan, teman Rendi. Meskipun ia sangat membenci kakaknya itu, tapi tidak tega juga ia melihat kesedihan ibunya. Karena itu, ia bertekad untuk membantu ibunya bertemu dengan kakaknya. Dipandanginya serius kerta-kertas lusuh itu. Sudah berkali-kali kakaknya berpindah tempat tinggal di kota.

Sepuluh menit berlalu. Kertas yang di cari Hendra akhirnya ditemukan. Kertas yang putih lusuh itu berisi alamat kakaknya yang dikirim Alfan tiga minggu yang lalu. Didekatkannya kertas itu ke Senthir yang tergeletak di meja kamarnya. di catatnya ulang alamat itu di kertas kecil, kemudian disimpannya.

“Jl. Akarena No.12 ” gumamnya lirih. Disandarkan tubuhnya di kursi bambu, sampai tak terasa matanya terlelap seketika.

Adzan subuh sedang berkumandang ketika Bu Hesti membangunkan anaknya, Hendra. Seperti biasa, mereka akan melakukan sholat subuh berjamaah. Kemudian, mereka akan mulai mencari rezeki dengan berjualan gorengan milik tetangga.

“Hen… Hari ini ibu mau ke kota, mencari kakakmu” gumam Bu Hesti ketika sepulang berjualan.

“Iya Bu.. Nanti Hendra ikut ibu, Hendra juga sudah tau alamat Mas Rendi kok” jawab Rendi.

Bu Hesti tersenyum lebar mendengar penuturan Hendra. Penantiannya selama ini akan segera terbayar lunas. Rindu yang selama ini ia pendam akan segera terbayarkan.

Berangkatlah Bu Hesti dan Hendra ke kota setelah melaksanakan sholat dzuhur. Dengan bermodalkan uang tabungan yang dikumpulkan selama 3 tahun, mereka membeli tiket kereta kelas ekonomi. Perasaan Bu Hesti berdebar-debar menantikan pertemuan dengan anaknya, Rendi. Sepanjang perjalanan matanya tak bisa terlelap, wajah anaknya selalu terbayang di pelupuk matanya. Sementara itu, di sampingnya anak bungsunya, Hendra sudah tertidur lelap. Dia hanya tersenyum melihat anaknya itu tertidur pulas. Di elusnya rambut anaknya itu. Tiga tahun sejak kematian suaminya dan kepergian anaknya Hendra lah yang selalu ada bersamanya. Menemaninya hidup di gubug tua yang hanya diterangi senthir tua. Tidak pernah ia mendengar keluhan keluar dari mulut anaknya itu. Walau sesulit apapun kehidupan yang mereka alami.

Tak terasa 18 jam telah berlalu. Mereka sudah sampai di Stasiun kota. Dengan tergesa-gesa mereka meninggalkan kereta untuk mencari rumah Rendi. Dengan berbekal alamat yang mereka punya, mereka bertanya kesana kemari. Sampai akhirnya seorang pemuda menunjukkan mereka untuk pergi ke alamat yang di tuju dengan menggunakan taksi.

***

Matahari sudah naik tinggi. Rendi masih terbaring di tempat tidur nyaman miliknya. Reva sudah berkali-kali membangnkannya. Namun, Rendi yang merasa sedang tidak enak badan itu sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya.

“Nanti.. aku sedang tidak enak badan “ jawab Rendi singkat ketika Reva berkali-kali membangunkannya.
“Udah siang lohh Mas, Nanti telat berangkat ke kantor” ucap Reva kembali mencoba membangunkan suaminya itu.

“Aku libur hari ini, biarkan aku istirahat full hari ini.” Jawab Rendi lagi.

Mendengar itu Reva hanya menggelengkan kepala kemudian meninggalkan suaminya.Tidak tega juga ia melihat suaminya kelelahan. Beberapa hari ini, ia memang bekerja lebih keras dari pada sebelum menikah. Itulah yang membuat Reva jatuh hati pada Rendi. Kemauannya kuat, pantang menyerah dan rajin bekerja.

Setengah jam kemudian Reva kembali ke kamar. Setelan jas kerja menempel rapi di tubuhnya. Rambutnya yang lumayan panjang dibiarkannya tergerai begitu saja. Wangi parfum pun tercium dari tubuhnya. Pertanda bahwa ia sudah siap pergi ke kantor tempatnya bekerja. Sementara itu, Rendi masih terlelap. Di kecupnya kening suaminya itu.

“ Mas , ayo sarapan. Udah aku siapin makanan kesukaan Mas lohh” ucap Reva

“ Iya” jawab Rendi singkat, kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Tidak lupa ia memberi kecupan selamat pagi kepada istrinya. Reva hanya tersenyum dan mengikuti suaminya menuju ruang makan. Berbagai macam makanan sudah tersaji disana. Mereka pun mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia. Begitu selesai Reva langsung berpamitan kepada suaminya, Rendi.

“ Mas, aku berangkat kerja dulu yah” ucap Reva kemudian mengecup kening suaminya yang belum selesai makan itu.

“ iya, hati-hati di jalan” jawab Rendi sambil melempar senyum.

Deru suara mobil sudah menjauh. Tiba-tiba terdengar pintu rumah di ketuk. Segera Rendi berjalan meinggalkan tempat makan.

“Iya, sebentar. “ jawab Rendi dari dalam rumah. Namun,betapa kagetnya ia ketika membuka pintu. Didapatinya ibu dan adiknya yang sudah tiga tahun ia tnggalkan di gubug tua. Mata Bu Hesti berkaca-kaca melihat anak sulungnya yang sudah menjadi orang sukses. Sementara Hendra tampak acuh dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“ Rendi” gumam Bu Hesti kemudian hendak memeluk anak sulungnya itu. Namun, dengan kasar Rendi mendorongnya. Kontan saja air mata mengalir dari kedua matanya. Hendra yang dari tadi diam mulai angkat bicara.

“Mas, Sopan dong sama ibu “ ucap Hendra dengan nada tinggi.

“ Diam kamu” bentak Rendi “lebih baik sekarang kamu bawa ibu pergi dari sini “ Lanjutnya.

Hendra semakin marah, tangannya terkepal dengan keras. Kalau saja ibunya tidak mengajaknya pergi, mungkin bogem mentah sudah melayang ke wajah kakaknya yang angkuh itu. Dengan perasaan dongkol ia bawa ibunya pergi.

***

“ Hen..tolong jangan lakukan itu. Aku ini kakakmu “ pinta Rendi dengan wajah memelas.

“ Kakak ? Aku tidak pernah punya kakak “ jawab Hendra, senyum berkembang di bibirnya. Pistol di tangannya masih mengacung tegak ke kepala Rendi.

“ Maafkan aku Hendra. Selama ini aku khilaf “ kali ini air mata mulai membasahi pipi Rendi.

“ Iya . Kamu khilaf. Dan karena ke khilafanmu ibu mati konyol “ gelak tawa terdengar nyaring dari mulut Hendra.

Sementara itu keringat dingin terus bercucuran membasahi tubuh Rendi. Tidak pernah terpikirkan olehnya, perbuatannya akan berakibat seperti ini. Ibu nya mati tertabrak mobil ketika hendak kembali ke rumah Rendi. Kematian ibu nya mebuat Hendra menggila dan berencana membunuh kakaknya itu.

“ Hendra…tolong…” belum selesai Rendi berbicara sebuah peluru menembus otaknya. Darah segar membanjiri lantai. Hendra tertawa puas melihat kematian kakaknya. Tidak sampai disitu, dia menembak lagi kepala kakaknya yang sudah berlumuran darah itu. Tawanya kembali terdengar keras. Namun kali ini bercampur dengan suara tangis. Tangis penyesalan atas apa yang dia lakukan. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar di buka. Bersamaan dengan masuknya Reva ke dalam kamar, terdengar lagi suara tembakan.
“bugggg” suara orang jatuh ke lantai terdengar keras. Reva yang melihat kejadian itu langsung berteriak histeris. Rasa kagetnya bertambah ketika melihat suaminya, Rendi terbujur kaku di lantai dengan berlumuran darah. Kepalanya tiba-tiba pusing , tubuhnya limbung dan sedetik kemudian dia sudah tak sadarkan diri.

“Penyesalan selalu datang di belakang. Agar kau tidak menyesal jangan lakukan kesalahan mendasar yang bisa menimbulkan permasalahan besar “

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply