Sunrise silla

Oleh : Labib Fida Asyfairi

Kacamata check, jaket check , kaos tangan check , kaos kaki check, peralatan observasi check, kaos kaki check. Oke semua sudah siap. Silla fighting silla. Hamasah .

silla cepetan dandannya tar kita ditinggal yang lain lho, kita kan ga tahu tempat observasinya.  ” seru Ajeng mengganggu konsentrasiku untuk mengecek barang.

“ iya tunggu jeng, ini lagi ambil helm” aku segera memasang helm dan menatap cermin sekali lagi.

“kamu ngapain aja sih kok lama banget, setahuku dandan kamu kan Cuma bedakan tapi kok lebih lama dari aku ya?” gerutu Ajeng yang sudah siap disamping motor perjuangan kami. Karisma 2006 yang telah menemani kami selama 2 tahun ini di kota perantauan. Semarang.

“ hehehe maaf Jeng, si Nafisa sudah berangkat?” tanyaku sambil melirik ke Asrama Siti Ruqoyyah,sebelah  asrama ku, Ummu Kulsum  . Aku dan ketiga puluh teman sekelasku  yang terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan memang diwajibkan untuk mondok di Pesantren Life Skill Daarun Najaah. Karena itulah persyaratan dari beasiswa yang kami terima di UIN Walisongo jurusan Ilmu Falak ini. Pondok yang tak seperti pondok pada umumnya karena pondok kami terletak di tengah komplek perumahan, karena banyaknya santri maka Kyai kami mengontrak beberapa rumah warga untuk santri-santriwati nya, maka jangan heran jika pondok kami tidak dalam satu lingkup. Namun beberapa rumah yang kadang dihelat dengan rumah warga.

“ iya udah, tadi dijemput sama Nanang, kata Nanang mereka nunggu di komplek pondok putra.”

“ udah siap? Udah dicheck semua kan kamera untuk observasi?” kulirik ajeng dari spion kiriku yang mengangguk di boncengan belakang.

Bismillahi tawakaltu ‘alallah laa hawla walaa quwwata illa billah.

Segera kulajukan motorku keluar gang Rt.10 menuju gang sebelah Rt 4 dimana komplek pondok putra berada yang hanya 1 menit ditempuh dengan motor. Kulihat kelompok kami sudah siap dan segera melaju dengan motor mereka masing-masing setelah melihat kami di belakang.

Ternyata pantai Marina tempat dimana pagi ini kami akan melakukan observasi sunrise tidaklah jauh seperti yang kuduga, hanya butuh 30 menit perjalanan dengan motor. Suasana Pantai Marina pada pukul 04.30 masih sangat sepi  hanya ada beberapa pengunjung yang mungkin sengaja begadang di pantai untuk memancing. Entah untuk benar-benar memancing atau hanya menyalurkan hobi yang sangat bermanfaat untuk melatih kesabaran dan ketenangan. Setahuku untuk medan seperti Pantai Marina yang tidak seperti pantai pada umumnya karena  hanya dikelilingi banyak batu karang hitam sehingga tidak banyak ikan besar yang bisa dipancing, hanya ada ikan kecil-kecil yang tak sebesar ibu jari.

Aku mengambil beberapa potret foto suasana di pantai menjelang pagi, suasana orang yang sibuk memancing juga beberapa orang yang terlihat siap untuk melihat satu dari keajaiban Allah. Matahari terbit sangat indah dan begitu jelas perpotongan langit dan laut.

“Sil, sini “ teriak Ajeng yang lagi-lagi mengganggu konsentrasiku untuk melihat hasil jepretan amatirku. Ajeng  sudah berpose bak model yang duduk disalah satu batu karang, dan aku tau kalo sudah begini pasti si Ajeng meminta untuk dipotret.

“ga kelihatan Jeng, masih gelap.”

“pakai flash dong” rajuknya

“jelek ga papa ya?” godaku dan disambut dengan rengutan wajah  Ajeng yang membuatku tertawa

“kalo ga mau hasilnya jelek, mending kamu ambil posisi menghadap laut aja biar aku foto dari samping.”

Ajeng mulai mengikuti intruksiku dan dengan beberapa kali jepret aku sudah mendapatkan foto yang bagus. Aku mengajak Ajeng untuk ikut berkumpul dengan yang lain.

“ Pantainya bagus ya Jeng? Bikin tenang”

“ah, kalo ini mah biasa aja. Lebih bagus juga pantai di Jogja”

“yah kan aku ga tau Jogja Jeng.”

“salah siapa kalo ku ajak pulang ke rumahku ga mau” cibirnya lagi.

“ga salah siapa-siapa dong kan aku juga pulang ke lain pulau,melepas kangen dengan keluarga tapi ntar deh kapan-kapan aku ikut pulang kamu, dan meminta ijin Umi dan Abi ke Jogja biar bisa bandingin mana yang bagus”

“beneran ya? Awas aja kalo ga, aku jamin ibuku bakal nguyel-nguyel kamu kalo ga jadi”

“iya,iya insya allah, kesana yuk kayaknya yang lain udah pada siap-siap untuk sunrise”

“udah kumpul semua kan? Baiklah seperti yang udah kita rencanakan kemarin. Nafisa, malik sama ajeng tugas memvideo mataharinya pakai kamera sama handphone. Aku, silla sama rahman tugas memfoto tiap sepuluh detik. Si agung mantau jam sedang si rozaq memantau lewat stellarium. Oke kalau udah paham sekarang persiapkan alat masing masing.” Komando nanang yang memang ketua kelompok untuk tugas observasi ini.

“rozak sesuai hisab dan stellarium matahari terbit jam berapa?” tanyaku sambil membantu ajeng mempersiapkan tripod kamera.

“jam 05.25.” aku segera mengecek jam dipergelangan tanganku masih ada 10 menit untuk menyiapkan semua.

Aku melirik teman-teman satu kelompokku yang sedang sibuk dengan peralatan masing-masing.  Ada Ajeng yang sedang mengarahkan kamera dan menyesuaikan tinggi tripod. Ajeng ini adalah sahabat dekatku yang sudah kuanggap sebagai saudara teman satu motorku yang selalu siap mengingatkanku jika aku salah. Ada juga si Nafisa gadis imut yang ‘sedikit cerewet’ dan teman boncengannya nanang yang bisa berfikir dewasa namun juga kocak dengan tingkahnya pemecah suasana jika kami sedang tegang. Malik yang pendiam yang selalu dibully dengan candaan kami. Rahman sang penyuka tekhnologi. Agung yang selalu netral bahkan tidak pernah bisa marah. Terakhir aku melirik Rozak yang sedang mengutak atik laptopnya.

“udah ga usah diliatin mulu si Rozaq, kalo jodoh juga ga kemana kok” bisik Ajeng yang langsung mendapat toyoranku di kepalanya. Aku tertawa.

“kamu itu lho Jeng udah kaya mama lauren aja, ngramal ga jelas” aku segera pergi ke samping Nafisa.

Sebenarnya ada alasan mengapa Ajeng menggodaku sedimikian rupa. Itu karena kejadian yang terjadi satu bulan lalu, karena kesalahpahaman aku dimusuhi beberapa teman perempuanku. Semua berawal dari kertas yang kutemukan didalam laci di mata kuliah praktikum falak 1 saat aku membersihkan laci meja. Aku iseng membaca selembar kertas binder putih itu karena tertarik dengan kalimat pembukanya.  Untukmu yang selalu menghiasi doaku .Belum sempat aku membaca kalimat selanjutnya si Ahfaz merebut kertas yang berada di gengagaman tanganku. Dan membaca dramatis isi surat tersebut.

“oi,oi dengerin Silla nulis surat.“ Semua temen kelasku langsung melihat ke arah ahfaz yang berada di depan.

“itu bukan aku kali Faz, itu tadi aku nemu di laci.” Aku segera ,mengoreksi kata-kata Ahfaz.

“masa sih? Yaudh jangan sewot gitu dong. Kan bukan kamu yang nulis. Bacain ga nih?”

“bacain-bacain Faz” seru teman-temanku yang riuh menanggapi pertanyaan Ahfaz. Ahfaz melirikku seakan meminta persetujuanku. Aku hanya angkat bahu membiarkan si Ahfaz membacanya.   Awalnya aku tak peduli dengan surat tersebut, karena memang bukan aku yang nulis kok. Namun aku sedikit penasaran dengan tulisan tersebut. Ahfaz membaca dengan lantang dan suara yang sedikit lebay.

Untukmu yang menghiasi doaku….

Aku bahagia mengenalmu Zaq, dan lebih bahagia saat aku tahu aku satu kelas denganmu. Maafkan aku karena aku lancang untuk menyukaimu. Maafkan juga karena menganggap  kamu adalah matahari untukku. Walaupun kamu tak tahu perasaanku, aku tetap bersyukur dan berharap kamu akan menjadi imamku. Terima kasih karena saat itu kau menghiburku dengan alunan ayat al-qur’an yang menyejukkan hatiku dikala aku benar-benar butuh dukungan. Awalnya aku tak tahu itu kamu, namun untuk kedua kalinya aku mendengar suara merdumu mengalunkan kalam ilahi. Yang lagi lagi dengan lancang membuat hatiku berdebar. Dan berdoa di saat yang bersamaan, meminta kepada Sang Penumbuh Rasa untuk menjodohkan mu dengan diriku.

Aku tak butuh kamu tahu aku mencintaimu, karena aku bahagia mencintaimu dalam diam. Aku tak butuh perhatiannmu karena aku tahu aku belum berhak untuk mendapatkannya.K arena itu aku selalu berdoa dalam sepertiga malamku, jika kau memang jodohku maka jagakanlah perasaanku untukmu, tumbuhkanlah juga rasa itu di hatimu sedikit demi sedikit hingga tiba waktunya. Namun, jika kamu bukan jodohku, maka kikiskanlah perasaanku sedikit demi sedikit hingga itu tak bersisa lagi dihatiku.

Maafkanlah aku yang telah lancang mengungkapkan perasaanku di atas kertas ini, karena sungguh aku tak sanggup menahan gejolak rasa dihatiku.

Untukmu,yang selalu dalam doaku Rozaq…  from ur screet admirer SF.

Aku hanya menganga tidak percaya. SF? SF itukan singkatan namaku Silla Fatiha. Sedang Rozaq juga temen sekelasku. Yang memang mempunyai suara merdu, pintar, dan selalu menjaga jarak dengan perempuan. Ikhwan sejati lah. Dan ini sungguh mengherankanku. Ini sungguh kebetulan yang mencengangkan.

“ ciye, Silla diam-diam menghanyutkan ya kamu, suka sama Rozaq si wantednya kelas.” Goda Nanang

“tuh Zaq ada yang ngungkapin cinta ke kamu. diterima ga nih?” si Arif yang memang komting kurang kerjaan tambah memanasi suasana. Aku langsung melihat Rozaq yang juga melihatku beberapa detik dan konsen lagi dengan laptopnya.

“apaan sih itu beneran  bukan aku. Aku tadi nemu di laci. Coba tanya si Nia. Iya kan ni?” aku mencari dukungan nia yang jadi teman sebangkuku kali ini. Tapi dia hanya diam memalingkan muka.

“ah sil, jangan ngeles deh. Ini lho udah jelas-jelas SF. Silla Fatiha.” Goda si Ahfaz lagi.

“ serah deh, yang penting itu bukan aku. Titik”

Awalnya aku tak tahu mengapa Nia tidak membantuku padahal dia tahu pas aku membersihkan laci dan menemukan surat itu. Sejak itu semua berubah karena banyak dari teman perempuanku mendiamkanku dan mengabaikanku bahkan ada yang menyindirku dengan teman makan teman. Namun, semua terjawab 3 hari setelah kejadian itu, bahwa Nia menyukai Rozaq dari semester awal. Aku tahu itu saat Ajeng memberitahuku. Astagfirullah, hanya karena surat tak bertuan itu aku harus dimusuhi. Aku berada dalam situasi yang tak mengenakkan itu setelah 3 minggu berlalu. Tanpa aku sangka ada seorang teman  yang berbeda kelas mengakui bahwa itu adalah surat yang dia tulis untuk cerpennya. Dia meminta maaf karena kesalah pahaman yang menimpaku. Dan menjelaskan di depan teman-teman kelas  untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Rasanya itu kesal banget saat mengetahui hidupku seperti  layaknya sebuah  drama dimana aku yang tak tahu apa-apa dituduh tidak setia kawan karena menyukai seseorang yang sama. Dibenci sedemikian rupa dan dijauhi bahkan ada yang memandang sebelah mata. Namun, aku bersyukur karena dengan begitu aku mendapat sebuah pelajaran janganlah kamu sembarangan menulis sesuatu mengenai hatimu di suatu media, entah itu media tulis, cetak atau media sosial. Karena cukuplah hanya dirimu dan Tuhan yang tahu.

“tuh kan melamun lagi.” Ajeng menepuk bahuku pelan aku hanya tersenyum malu

“Matahari bentar lagi terbit. Itu meganya udah kelihatan. “ aku mengangguk dan segera bersiap diposisiku mengambil angel yang pas untuk memotret sunrise. Suasana yang sungguh syahdu, seakan semua mulai menikmati salah satu kuasa Allah ditemani dengan debur ombak yang merdu bagai simponi orkestra dan bau asin laut yang tercium terbawa angin pagi yang sejuk. Menyambut pagi, perjalananku masih panjang. Dan aku tak ada apa-apanya di dunia ini. Karena laa haula walaa quwwata illaa billahi ‘aliyil ‘adzim.

“assalamu’alaikum, maaf ganggu disini ada yang namanya Silla?” ucap gadis yang berhijab maroon di depan pintu. Membuat suasana kelas Silla yang riuh menjadi hening.

“iya, ada apa mbak?” tanya Silla sambil menghampiri gadis tersebut.  Silla mengajaknya keluar kelas

“perkenalkan nama saya Arum, saya mau minta maaf” ucapnya tiba-tiba saat kami sudah di luar kelas

“minta maaf untuk?” Silla mengernyit bingung karena merasa tidak pernah mengenal Arum dan merasa bahwa Arum pernah berbuat salah padanya.

“iya, minta maaf karena aku dengar dari temen sekelasku bahwa kamu mendapat masalah karena keteledoranku” Silla masih diam dan masih mengernyit bingung

“kamu ingat surat yang kamu temukan dilaci 3 minggu lalu?” Silla mengangguk

“sebenarnya itu adalah surat yang kubuat untuk tulisanku di buletin , dan nama tokohnya hampir sama dengan namamu dan teman sekelasmu. SF sebenarnya adalah Syifa Fattaya dan Rozaq Maulana, saat itu aku teledor dan meninggalkan surat tersebut di laci” Silla hanya bisa menatap tidak percaya apa yang dikatakan gadis berhijab maroon tersebut.

“oh iya kalo ga percaya ini buku cerpen yang sudah diterbitkan.” Arum menyodorkan buku kumpulan cerpen yang didepannya tertulis MAGESTY.

teruntuk kamu seseorang bidadari yang menghiasi doaku…

Awalnya aku tak mengenalmu dekat, aku juga tak pernah penasaran akan sosok dirimu. Aku hanya mengenalmu sebagai teman wanita seperti yang lainnya. Namun, aku tak tenang karena namaku, kamu mendapat kesalahpahaman dan ketidakadilan. Semakin tak tenang mendengar tangisan aduanmu kepada Tuhan di sepertiga malam itu.

Aku tak tahu mengapa Allah menggerakkan hatiku untuk menolongmu kala itu, aku berusaha mencari seseorang yang menulis surat itu dan menemukannya dan meminta bantuannya untuk menjelaskan kebenarannya. Yang aku tahu bahwa Allah telah menumbuhkan rasa itu dihatiku.semakin tumbuh kala aku tahu kamu adalah gadis yang selalu

Untukmu yang aku harapkan menjadi makmumku…

Maafkan aku yang juga telah lancang menyebut namamu dalam doaku, semakin lancang dengan tumbuh suburnya perasaanku,aku yang hanya mampu berharap melihatmu didalam mimpi-mimpi masa depanku, aku yang juga berdoa agar engkau menjadi bidadari yang kelak menjadi ibu dari anak-anakku. Wanita yang akan menjadi  seorang Siti Khadijah untuk Nabi Muhammad, wanita yang tegar sebagaimana Siti Fatimah untuk Ali bin Abi Thalibnya dan berwajah Kemerahan layaknya Siti Aisyah.

Dari seorang yang berharap kau menjadi makmumku

 

Rozaq Al-Bana

 

 

 

                                                                                                               

Silakan dibagikan :)

CSSMoRA UIN Walisongo

Website resmi CSSMoRA UIN Walisongo Semarang - Organisasi Mahasantri Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply